Di sebuah bandara internasional yang ramai, ada satu keluarga kecil lagi duduk di boarding gate:
Ayah, Ibu, dan bayi mungil yang baru 1 tahun. Namanya Rafif. Dia masih belum bisa ngomong, tapi udah bisa teriak kalau lapar.
“Bang,” kata sang ibu sambil elus-elus kepala si bayi, “nanti Rafif duduk sendiri atau di pangku?”
Si Ayah, yang dari tadi asik ngulik tiket di HP, langsung jawab yakin:
“Ya masa gak dapet kursi? Udah bayar lho!”
Tapi ternyata… saat di pintu masuk pesawat, pramugari senyum sambil bilang:
“Anaknya dipangku ya, Pak. Untuk bayi di bawah 2 tahun, memang belum dapat kursi.”
Ayah dan ibu langsung kaget.
“Lho, kan dia manusia juga! Masa nggak dianggap penumpang penuh?”
Pramugari masih dengan senyum ramah, cuma jawab pelan:
“Namanya juga infant, Pak. Bukan passenger penuh. Tapi tenang, tetap dapat sabuk pengaman khusus kok.”
Dan di sinilah kita mulai masuk ke cerita sebenarnya.
“Infant” Bukan “Passenger Biasa”
Dalam dunia penerbangan, bayi di bawah usia 2 tahun disebut infant.
Ini bukan soal mendiskriminasi, tapi soal peraturan keselamatan dan logika penerbangan. Kenapa? Karena secara umum, infant:
- Masih bisa dipangku
- Berat badannya belum stabil
- Belum butuh seat belt standar
- Dan… belum bisa minta jendela
Ini namanya “Age-based Travel Logic” – Bukan karena pelit kursi, tapi demi keamanan dan efisiensi.
Kapan Infant Harus Bayar?
Nah, walau gak dapet kursi, bukan berarti gratis.
Biasanya, infant tetap dikenakan biaya sekitar 10% dari harga tiket dewasa, tergantung maskapainya. Ada juga yang pakai flat rate, misalnya Rp150.000 – Rp500.000 untuk rute domestik. Kata Ayah Rafif:
“Lho, jadi anak gue bayar tapi gak dapet kursi? Rugi dong!”
Tenang, Bro.
Uangnya bukan buat nyewa kursi, tapi buat:
- Sabuk pengaman bayi
- Asuransi penerbangan
- Beban tambahan kabin
- Administrasi maskapai
Ini namanya “Paid but Not Seated” – Karena keselamatan itu tetap ada biayanya.

Kalau Mau Bayi Dapat Kursi? Bisa Kok
Ada juga keluarga yang pengen bayinya punya kursi sendiri. Biasanya karena:
- Bayi udah agak besar
- Perjalanan jauh
- Orang tua pengen istirahat
Solusinya:
Beli tiket anak (child fare), walau usianya masih di bawah 2 tahun.
Tapi konsekuensinya:
- Bayinya duduk sendiri
- Wajib pakai car seat (kursi khusus bayi)
- Orang tuanya tetap harus awasi 24 jam non stop
Ini namanya “Optional Seat for Peace” – Demi kenyamanan (dan kewarasan) selama perjalanan.
Tapi Gimana Kalau Bayinya Aktif Kayak Jet Pribadi?
Nah, ini masalah klasik.
Si kecil Rafif baru naik pesawat 5 menit, udah berdiri, goyang-goyang, teriak, dan lempar dot ke depan.
Si ibu panik.
Si ayah pura-pura tidur.
Penumpang sebelah senyum kecut.
Ini namanya “Flying with Drama” – Tantangan jadi ortu beneran dimulai di ketinggian 35.000 kaki.
Makanya, selain mikirin soal kursi, ada hal-hal lain yang wajib disiapkan kalau bawa bayi naik pesawat:
- Susu atau ASI, biar bayi anteng
- Mainan favorit
- Gendongan atau baby carrier
- Popok cadangan
- Tisu basah segunung
Dan yang paling penting?
Mental baja dan senyum pura-pura santai. Karena bayi bisa rewel kapan aja, dan lo gak punya tombol mute.
Kenapa Harus Pangku? Gak Bahaya?
Banyak orang tua khawatir:
“Kalau dipangku, pas turbulensi gimana? Aman gak?”
Tenang. Maskapai udah nyediain infant seat belt yang dipasang ke sabuk pengaman orang tuanya.
Jadi bayi tetap terikat aman di pangkuan, gak bisa loncat ke kabin bisnis.
Ini namanya “One Lap, Two Lives” – Dua nyawa, satu sabuk.
Tapi kalau lo termasuk tim super khawatir, ya tadi itu solusinya: beli kursi anak + bawa car seat.
Jadi, Apa Kesimpulannya?
- Anak di bawah 2 tahun secara default gak dapet kursi. Mereka dipangku dengan sabuk pengaman khusus.
- Tetap bayar, tapi gak full seat. Hanya sebagian kecil biaya.
- Kalau mau kursi sendiri, beli tiket anak biasa. Boleh kok, asal bawa car seat.
- Persiapkan perlengkapan bayi dan mental kuat. Karena penerbangan bareng bayi bukan sekadar jalan-jalan, tapi perjuangan hidup.
Dan terakhir, jangan pernah underestimate kemampuan bayi untuk menciptakan kekacauan global dalam ruang sempit.
Di akhir penerbangan, Ayah Rafif bersandar lelah.
Dia menatap anaknya yang akhirnya tidur pulas setelah tiga jam nyanyi-teriak.
Sambil ngelap keringat, dia nyeletuk:
“Besok-besok, liburan kita naik mobil aja ya… syaratnya cuma SIM.”
Ini namanya “Post-flight Realization” – Kesadaran baru setelah berjuang di atas awan.
Jadi…
Kamu masih mau ajak bayi naik pesawat?
Atau mulai browsing harga car seat dulu?