Di sebuah kamar kos yang sumpek, dengan kipas angin yang berderit seperti suara setan dicubit, seorang manusia bernama Rika sedang meringkuk sambil menempelkan es batu ke pelipis. Sudah tiga hari kepalanya berdenyut seperti genderang perang. Ini bukan migrain biasa. Ini migrain yang punya tekad baja, niat kuat, dan semangat juang level final boss di game RPG.

“Ini migrain atau karma masa lalu sih?” gerutunya.

Nah, ini dia yang disebut “Pain with persistence” – Sakit kepala yang tidak tahu malu!

Rika sudah coba semuanya. Minum obat? Sudah. Tidur gelap-gelapan? Sudah. Menjauh dari mantan? Sudah dari tahun lalu. Tapi migrain ini masih nemplok seperti hutang yang belum lunas.

Sampai akhirnya dia memutuskan untuk ke dokter. Tapi dokter malah bilang:
“Coba hindari stres dulu ya, Mbak.”

Rika langsung bengong.
Ini namanya “Stresception” – Dikasih saran bikin tambah stres.

Akhirnya Rika putuskan untuk cari tahu sendiri. Katanya, ada yang bilang migrain itu bisa dipicu makanan, perubahan hormon, sampai… wangi parfum. Parfum! Jadi bukan cuma mantan yang bisa bikin sakit hati, ternyata parfum juga bisa bikin sakit kepala.

Ini namanya “The Betrayal of Fragrance” – Wangi yang berubah jadi derita.

Lalu Rika coba catat semuanya. Tiap kali migrain datang, dia tulis di buku: jam berapa muncul, habis makan apa, lagi PMS atau enggak, habis ketemu siapa (catatan: nama Reza muncul 7 kali). Ternyata dari semua itu, ada pola yang muncul. Dan ini bukan pola batik, tapi pola pemicu migrain.

Rika sadar, tiap kali dia tidur terlalu lama di akhir pekan, migrain datang.
Ini namanya “Revenge Sleep Backfire” – Niat balas dendam tidur malah kena tulah.

Rika juga nemu fakta menarik. Migrain-nya lebih sering muncul kalau dia melewatkan sarapan. Jadi dia simpulkan:
“Migrain ini ternyata mirip gebetan. Kalau diabaikan, dia muncul. Tapi kalau dikasih perhatian, malah manja.”

Lalu, dia mulai eksperimen. Bukan pakai alat lab, tapi dengan hidupnya sendiri. Coba meditasi, katanya bisa bantu.

Hari pertama meditasi, Rika duduk bersila, tutup mata, tarik napas panjang… dan langsung teringat tagihan listrik.
Ini namanya “Mindfulness Gone Wrong” – Bukannya tenang, malah panik.

Tapi dia enggak nyerah. Hari kedua, ketiga, sampai hari ketujuh, akhirnya dia bisa merasakan keajaiban meditasi. Bukan tiba-tiba tercerahkan atau terbang ke dimensi lain, tapi… migrain-nya berkurang.

Ternyata meditasi itu bukan soal jadi tenang terus, tapi soal ngakui bahwa pikiranmu lagi ribut, dan kamu tetap duduk di situ, nerima, dan napas.

Ini namanya “Mental Endurance” – Nggak semua harus dilawan, kadang cukup diterima.

Lalu dia nonton video tentang progressive muscle relaxation. Latihan relaksasi otot yang katanya bisa bantu meredakan ketegangan. Rika coba, dan setelah dua minggu, dia sadar bahwa kadang migrain-nya bukan karena tubuhnya lelah, tapi karena otaknya enggak pernah istirahat. Bahkan pas tidur pun masih mikirin KPI.

Ini namanya “Working While Sleeping” – Tidur tapi jiwa tetap ngantor.

Rika mulai lebih sadar akan tubuhnya. Dia atur ulang jadwal makan, tidur lebih konsisten, minum cukup air, dan ya… mulai berani bilang “tidak” ke ajakan nongkrong yang enggak penting. Termasuk ajakan dari Reza.

Ini namanya “Detox for the Brain” – Bukan cuma makanan yang harus disaring, tapi juga orang-orang di sekitar.

Sampai suatu malam, setelah seharian kerja dan kena drama grup WA keluarga, migrain itu kembali menyerang. Tapi kali ini Rika enggak panik. Dia duduk, napas panjang, pasang musik instrumental, dan biarkan pikirannya ngalir.

Migrain itu akhirnya reda, bukan karena obat, tapi karena Rika sudah berdamai. Bukan berdamai dalam arti menyerah, tapi berdamai dalam arti mengerti.

Migrain yang enggak kunjung hilang itu seperti alarm tubuh. Dia bukan musuh, tapi pesan. Dan selama kita belum ngerti bahasanya, ya dia bakal teriak terus.

Ini namanya “The Whisper of Pain” – Tubuh selalu bicara, cuma kita yang sering cuek.

Jadi, kalau kamu lagi di posisi kayak Rika, sudah coba semua tapi migrain masih nempel seperti lem super, mungkin saatnya berhenti bertanya “Obat apa ya?” dan mulai bertanya “Tubuhku lagi pengin bilang apa?”

Karena sering kali jawaban itu bukan ada di apotek, tapi ada di keseharian kita sendiri.

Dan kalau kamu belum nemu jawabannya?
Tenang. Kadang kita perlu ngerasain pusing dulu, biar bisa lebih sayang sama diri sendiri.

Itu namanya “Healing with Humor” – Karena kadang, tertawa adalah terapi paling mujarab.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *