Di sebuah kampung bernama Cemasland, tinggal seorang pria bernama Pak Rustam, sang pahlawan rumah tangga. Hobinya? Bukan main burung atau mancing ikan, tapi… ngelap dinding. Bukan karena cinta kebersihan, tapi karena tiap kali hujan, dinding rumahnya banjir air dari dalam. Iya, dari dalam. Dindingnya bukan lagi tembok, tapi udah kayak spons raksasa.

“Wah, ini mah bukan rumah, tapi kolam renang vertikal!” celetuk tetangganya, Bu Darmi, sambil ketawa geli.

Pak Rustam geleng-geleng kepala. Dindingnya basah, cat ngelupas, jamur udah kayak taman lumut, dan yang paling parah—dia mulai curiga dinding itu punya dendam pribadi.

Sampai akhirnya, datanglah seorang kontraktor eksentrik bernama Pak Somad. Rambutnya gondrong, bawa ember segede dosa, dan pakai baju lusuh bertuliskan: “Air bisa nyelonong, tapi gua lebih cepet nutupnya.”

Pak Rustam langsung nanya, “Pak, ini rumah saya kenapa kayak hotel air mata? Dikit-dikit netes.”

Pak Somad nyengir. “Tenang, Pak. Ini bukan soal airnya jago nyusup, tapi dindingnya kagak dikasih pertahanan.”

Ini namanya “Defensive Wall Strategy” – Dinding juga butuh pertahanan, kayak hati lo pas ditinggal mantan.

Lalu dimulailah proses yang katanya bisa bikin dinding kedap air. Pertama-tama, Pak Somad nyuruh Pak Rustam garuk-garuk dinding dulu.

“Garuk dinding? Ini rumah, bukan ketombe!” protes Pak Rustam.

Pak Somad ketawa, “Garuk alias dikikis lapisan cat dan plester yang udah rusak. Kalau enggak, air bakal terus menyusup. Ini namanya ‘Total Reset Strategy’ – kadang, hal lama harus dihapus dulu biar yang baru bisa nempel sempurna.”

Setelah garuk-menggaruk, Pak Somad ambil kuas besar dan mulai olesin cairan bening ke dinding.

“Ini apa, Pak?”

“Ini waterproofer. Jangan tanya merek, yang penting fungsinya. Kayak cinta, yang penting tulus, bukan casing-nya.”

Ini namanya “Invisible Shield” – Lapisan tak terlihat yang bisa nyelametin dinding dari air dan nyelametin kamu dari stress akut.

Setelah cairan waterproof kering, masuklah tahap plester ulang. Tapi kali ini beda. Campurannya dikasih tambahan zat aditif anti air. Kata Pak Somad, ini kayak ngasih vaksin ke tembok.

“Biar kebal, Pak. Jadi pas hujan, air nggak bisa nembus walau udah nekat.”

Ini namanya “Preventive Maintenance” – Lebih baik cegah dari awal daripada nunggu air masuk terus panik berjamaah.

Lalu, setelah kering sempurna, dinding dilapisi lagi dengan cat khusus eksterior anti air.

“Pak, ini rumah saya jadi mirip benteng.”
“Emang gitu tujuannya. Rumah bukan tempat yoga air, tapi tempat lo nyari ketenangan. Kalau dinding bocor, tenang pun bubar.”

Dan hasilnya?
Hujan turun deras minggu depannya. Tapi kali ini… dinding Pak Rustam diam membisu. Tak ada netesan, tak ada rembesan. Bahkan Bu Darmi sampai mampir cuma buat ngetes.

“Wah, dinding lo udah tobat, Tam!”

Pak Rustam senyum. “Bukan tobat, tapi udah dikasih perlindungan yang tepat.”

Ini namanya “Right Treatment for the Right Problem” – Kadang masalahnya bukan kita, tapi cara kita nyelesaikannya.

Keesokan harinya, Pak Rustam nyoret daftar “keresahan hidup” dari catatan hariannya. Nomor satu: dinding basah – dicoret tebal.

Lalu dia tulis besar-besar:
“TERIMA KASIH, PAK SOMAD! LO PENYELAMAT DINDING DAN KETENANGAN JIWA!”

Dan di bawahnya, dia tulis kalimat yang entah dia dapat dari mana:
“Kalau hati aja bisa ditambal, masa dinding enggak?”

Begitulah kisah dinding basah yang akhirnya diselamatkan. Bukan oleh keajaiban, tapi oleh ilmu, ketelatenan, dan sedikit sentuhan jenaka dari tukang nyentrik bernama Pak Somad.

Jadi, kalau lo nanya: bagaimana cara membuat dinding basah kedap air?
Jawabannya sederhana: garuk masa lalu, lapisi perlindungan, dan plester dengan cinta.

Dan jangan lupa, kadang kita bukan butuh rumah baru…
Tapi cara baru melihat masalah lama.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *