Di suatu sore yang tenang, di sebuah ruang yoga pinggir kota, seorang peserta mendadak pegang kepala sambil meringis. “Aduh, migrain lagi,” katanya.
Instruktur yoga yang berkuncir dan berbaju serba putih langsung nengok, senyum tipis, lalu berkata, “Ah, itu tandanya cakra ajna kamu tersumbat.”
Peserta lain bengong. “Ajna? Itu merek teh ya?”
Semua ketawa. Tapi si instruktur malah makin khidmat.
Ini namanya “Energy Awareness” – percaya bahwa sakit kepala bisa punya makna lebih dalam daripada sekadar “belum makan siang.”

Lanjut ke belakang panggung dunia modern, di mana orang-orang sibuk dengan laporan kerjaan, deadline, dan tagihan listrik. Saat kepala mulai cenat-cenut, biasanya jawabannya simpel: “Kurang tidur.”
Tapi tunggu dulu, apa iya migrain cuma perkara jam istirahat?

Kita mundur sedikit ke pemahaman kuno: tubuh bukan cuma daging dan tulang, tapi juga terdiri dari pusat energi yang disebut cakra. Totalnya ada tujuh, dan semuanya punya fungsi masing-masing. Nah, si migrain ini sering banget nyangkut di satu titik yang cukup sakral – namanya Ajna Cakra, alias cakra ke-enam, alias Third Eye Chakra.

Ajna ini letaknya di antara kedua alis. Bukan di jidat, bukan juga di tengah-tengah rambut kayak antena. Tepat di antara alis, kayak titik di mana lo kadang nempelin koyo kalau udah nggak kuat.
Ini cakra yang bertanggung jawab atas intuisi, persepsi, dan kejernihan pikiran. Kalau tersumbat? Ya siap-siap deh…
“Selamat datang migrain, sang tamu tak diundang.”

Ini namanya “Blockage Indicator” – Tubuh ngasih alarm lewat rasa sakit.

Tapi kenapa bisa tersumbat?

Well, banyak faktor. Terlalu banyak mikir, terlalu banyak screen time, atau terlalu banyak drama dalam hidup (iya, yang suka overthinking dan baper juga rawan).
Ajna suka kacau kalau lo terlalu fokus ke luar, tapi nggak pernah menengok ke dalam.
Kayak hidup yang penuh notifikasi tapi nggak pernah ditanyain: “Apa kabar kamu hari ini, sungguhan?”

Beda sama sistem perbankan yang kalau macet bisa dibantu BI checking, cakra yang tersumbat nggak ada notifikasi pop-up-nya. Kadang lo baru sadar setelah tiga hari sakit kepala nggak kelar-kelar, padahal udah minum paracetamol selemari.

Ini namanya “Looking Inward” – Kalau migrain nggak sembuh, coba introspeksi.

Lalu, gimana cara bersihin si Ajna ini?

Pertama, jangan panik. Ini bukan kayak saluran air mampet yang perlu disedot pakai alat. Ajna lebih suka kelembutan.
Meditasi, visualisasi, dan tenangin pikiran adalah kuncinya.
Bisa juga dengan aroma lavender, musik frekuensi 432 Hz, atau sekadar duduk diam sambil tarik napas panjang kayak lagi nungguin jawaban chat dari gebetan.
Dan tentu, jangan lupakan tidur. Karena kadang solusi paling spiritual adalah… ya beneran istirahat.

Ini namanya “Healing is Simple” – Kadang cuma butuh hening.

Tapi, kalau kita terlalu rasional, mungkin kita akan bilang: “Ah, ini cuma sakit kepala, bukan karena cakra segala.”
Tapi hei, bukankah hidup juga bukan cuma tentang logika?
Kadang, hal-hal yang nggak kelihatan justru paling menentukan.
Kayak cinta, niat baik, atau… energi yang muter nggak karuan di tubuh lo.

Ini namanya “Subtle Reality” – Yang nggak kelihatan belum tentu nggak nyata.

Dan jangan lupa, segala yang berlebihan itu nggak baik.
Terlalu sering pakai kepala, tapi lupa pakai hati, bisa bikin ajna menjerit.
Bukan karena kurang pintar, tapi karena terlalu penuh sampai nggak ada ruang buat diam dan mendengar.
Migrain adalah surat cinta dari tubuh yang bilang, “Halo, aku di sini. Tolong perhatiin aku juga.”

Jadi, kalau kamu lagi kena migrain, mungkin bukan cuma saraf yang rewel.
Mungkin itu Ajna kamu yang minta waktu, minta ruang, minta kamu buka mata batin.
Karena mungkin, di balik denyut yang nyut-nyutan itu, ada pesan yang belum kamu baca.
Dan bisa jadi, itu pesan terpenting hari ini.

Ini namanya “Awareness Awakening” – Sakit yang ngajarin kita buat lebih sadar.

Jadi, cakra apa yang tersumbat kalau kita kena migrain?

Jawabannya sederhana: Ajna. Tapi efeknya bisa kompleks.
Bukan cuma nyeri, tapi juga kaburnya arah.
Bukan cuma sakit kepala, tapi juga rindu akan ketenangan.
Dan siapa tahu, dengan mendengarkan tubuh, kita akhirnya bisa menemukan versi terbaik dari diri kita… yang nggak cuma sembuh, tapi juga utuh.

Kalau kepala kamu nyut-nyutan, jangan buru-buru cuma cari obat.
Siapa tahu, tubuhmu sedang ngajak ngobrol… dan Ajna-mu sedang ngetok-ngetok pintu:
“Halo, kamu masih inget aku?”

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *