Di sebuah kampung bernama Suka Resah, hiduplah seorang bapak bernama Pak Dirman. Seorang pensiunan guru yang hobinya ngelihatin tembok rumah sambil mikir, “Ini tembok niat basah terus atau memang cita-citanya jadi kolam?”

Setiap pagi, Pak Dirman keluar dari kamarnya, melihat tembok ruang tamu yang catnya udah kayak kulit ular ganti baju—ngelupas di sana-sini. Lalu dia geleng-geleng kepala sambil nyeruput kopi:

“Ini tembok bukan cuma basah, Bro… ini tembok sudah belajar berenang.”

Ini namanya “Wall with a Dream” – Ketika dinding ingin punya kehidupan sendiri.

Saking frustrasinya, Pak Dirman pun curhat ke tetangganya, Bang Ucup. Si tukang bangunan, tukang servis pompa air, sampai tukang ngopi paling aktif di RT 03.

“Cup, ini tembok rumah gue basah terus. Tiap musim hujan kayak disiram air mata mantan. Bisa kering nggak sih, ini?” tanya Pak Dirman.

Bang Ucup nyeruput kopi tanpa gula (demi diet katanya), lalu jawab dengan nada sok bijak:

“Bisa, Pak. Tapi tergantung basahnya dari mana. Kalau dari luar, kita bisa lap. Tapi kalau dari dalam… wah, itu masalah batin, Pak.”

Ini namanya “Detect the Source” – Jangan asal keringin, cek dulu basahnya dari mana.

Akhirnya, Bang Ucup mulai investigasi tembok. Dengan gaya detektif murahan, dia pegang tembok, ngetuk-ngetuk, trus nyium aromanya.

“Ini rembesan dari luar, Pak. Air hujan nyusup dari dinding yang nggak dilapisi waterproofing. Temboknya kasihan, nggak pakai jas hujan!”

Pak Dirman bengong. “Jadi tembok juga butuh perlindungan, ya?”

Ini namanya “Protection is Key” – Bahkan tembok butuh dijaga, apalagi hati.

Bang Ucup pun mulai kerja. Dikeruknya bagian cat yang udah ngelupas kayak kulit ayam krispi. Lalu dikeringin pakai kipas angin tiga hari tiga malam. Sampai istrinya protes karena kipas angin rumah cuma satu.

“Abang pikir tembok doang yang panas?! Ini istrinya juga udah kayak tahu goreng!”

Ini namanya “Collateral Damage” – Kalau mau memperbaiki sesuatu, siap-siap ada yang protes.

Setelah tembok dikeringkan, dikasih lapisan waterproofing. Lalu diplester lagi. Dicat ulang. Dan voila! Tembok yang tadinya basah udah kinclong kayak wajah beauty vlogger.

Tapi belum selesai di situ.

Beberapa minggu kemudian, hujan turun deras. Pak Dirman duduk di ruang tamu, matanya melotot ke arah tembok.

Dua tetes air muncul di sudut kiri atas.

Pak Dirman: “Lho? Kok balik lagi?”

Bang Ucup dipanggil, datang sambil bawa gorengan. Dengan tenang dia bilang:

“Pak, kadang tembok itu kayak mantan. Udah ditambal, dikasih pelindung, dirawat… tetap aja nyusup pelan-pelan. Bukan salah tembok, tapi ada yang belum ketutup.”

Ini namanya “Check Again” – Jangan merasa kerjaan selesai hanya karena kelihatan rapi.

Akhirnya ditemukan celah kecil di atap. Air hujan nyusup dari situ, jalan-jalan lewat dinding, lalu nongol di tembok.

Pak Dirman cuma bisa garuk-garuk kepala. Tapi dia belajar satu hal penting:

Ternyata, tembok yang basah itu bisa kering. Tapi harus sabar, harus paham sumber masalahnya, dan harus siap kalau suatu hari… bisa basah lagi.

Ini namanya “Realization” – Semua bisa diperbaiki, asal kita ngerti prosesnya.

Dan sejak itu, setiap kali hujan turun, Pak Dirman bukan cuma lihat ke luar jendela. Dia juga tengok tembok, kasih senyum kecil, dan bilang:

“Tenang ya, tembok. Kalau kamu basah lagi, kita hadapi bareng-bareng. Aku udah siap.”

Ini namanya “Commitment” – Bahkan pada tembok pun, butuh kesetiaan.

Jadi, tembok basah apakah bisa kering?

Jawabannya: bisa.

Tapi kayak hidup. Butuh usaha. Butuh periksa akar masalah. Butuh kesabaran. Kadang harus ngerelain kipas angin satu-satunya, rela disemprot istri, dan yang paling penting: gak boleh buru-buru bilang “beres”.

Karena kadang… yang kelihatan kering di luar, masih nyimpan basah di dalam.

Dan tembok… nggak jauh beda sama hati manusia.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *