Di suatu pagi yang mendung tapi masih ada harapan, seorang pria bernama Budi sedang merintih kecil sambil memegangi sisi kiri kepalanya. Matanya menyipit seperti habis denger mantan nikah, dan tangannya sibuk meraba-raba dompet yang ternyata isinya cuma struk belanja dan kenangan masa lalu.

“Waduh, kambuh lagi nih migrain sebelah!” gumamnya, sambil mencari posisi tidur yang gak menambah penderitaan.

Istrinya, Sinta, langsung panik. “Udah minum obat belum?”

“Belum… Obatnya belum tentu manjur. Yang ada malah jadi lapar,” jawab Budi dramatis, padahal sebenarnya dia juga bingung: migrain sebelah itu obatnya apa sih?

Ini Namanya “Question of The Day” – Pertanyaan sepele yang bisa bikin scroll Google sampai subuh!

Budi akhirnya duduk, membuka ponsel, dan mengetik: “Obat migrain sebelah paling ampuh tanpa bikin ngantuk dan miskin.”

Tapi dari sekian banyak artikel, semua jawabannya muter-muter di tempat yang sama: parasetamol, ibuprofen, sumatriptan. Tapi kepala Budi tetap cenut-cenut seperti dihantam tagihan listrik tanggal tua.

“Ini mah teori semua!” keluhnya.

Akhirnya dia memutuskan buat nanya ke tetangga yang katanya “lebih suka herbal daripada kimia”. Muncullah tokoh legendaris: Pak Darno, pensiunan guru IPA yang sekarang jadi dukun pijat sekaligus ahli tanaman toga.

Ini Namanya “Go Local or Go Home” – Kalau internet bingungin, tanyain aja tetangga!

Pak Darno menyambut Budi dengan senyum penuh misteri.

“Migrain sebelah? Itu mah biasa. Dulu zaman saya masih ngajarin anak-anak yang susah paham fotosintesis, tiap hari juga migrain. Tapi saya punya resepnya.”

Budi langsung nyimak, berharap Pak Darno bakal nyebut nama obat paten.

“Ambil daun sirih tiga lembar. Rebus. Campur sama jahe, tambahin madu, terus minum pas masih hangat. Jangan lupa, sebelum minum, baca niat.”

Budi mengernyit. “Niat apa, Pak?”

“Niat supaya sembuh. Itu penting. Pikiran yang tenang bisa bantu badan nyembuhin dirinya sendiri.”

Ini Namanya “Mind over Migraine” – Kadang yang dibutuhkan bukan obat, tapi keyakinan dan sedikit jahe.

Budi nurut. Dia bikin racikan ajaib itu. Rasanya? Seperti campuran teh manis yang salah pergaulan. Tapi anehnya, setelah beberapa jam, kepala mulai agak ringan. Bukan karena obatnya langsung bereaksi, tapi mungkin karena Budi merasa berusaha untuk sembuh.

Keesokan harinya, Budi curhat ke grup WhatsApp keluarga.

“Guys, migrain sebelahku udah mendingan. Kemarin minum ramuan daun sirih ala Pak Darno. Lumayan, bisa bangun pagi tanpa pengen banting galon!”

Lalu muncul balasan dari sepupunya, Rani, yang kerja di apotek.

“Bang, itu placebo. Tapi bagus sih kalau ngerasa mendingan. Tapi kalau sering kambuh, mending cek ke dokter. Kadang migrain itu tanda stress, dehidrasi, atau kurang tidur juga.”

Ini Namanya “Reality Check” – Sebelum cari obat, pastikan dulu sumber masalahnya.

Budi tercenung. Akhirnya dia ngaca. Ternyata selama ini dia sering tidur jam 1 pagi, minum kopi kayak minum air putih, dan sarapannya sering cuma sisa bekal anak.

“Pantes aja kepala protes,” gumamnya.

Mulai hari itu, Budi ubah gaya hidup. Tidur lebih awal, minum air putih cukup, dan olahraga ringan tiap pagi. Kalau migrain datang, dia gak buru-buru cari obat, tapi tanya dulu ke dirinya sendiri: “Aku kurang apa hari ini?”

Ini Namanya “Healing from Within” – Obat yang paling ampuh seringkali bukan di rak apotek, tapi di cara hidup kita sendiri.

Dua bulan kemudian, Budi ketemu lagi sama Pak Darno.

“Gimana, masih cenut-cenut?”

“Udah jarang, Pak. Sekarang cenut-cenutnya cuma kalau lihat saldo ATM.”

Pak Darno tertawa.

Ini Namanya “Migrain Finansial” – Yang belum ada obatnya, tapi bisa dicegah dengan gak ngutang buat beli skincare.

Dan begitulah kisah Budi dan migrain sebelahnya. Dari obat warung sampai daun sirih, dari placebo sampai introspeksi. Karena ternyata, sebelum buru-buru cari obat, kadang kita cuma perlu berhenti sebentar dan dengerin tubuh kita sendiri.

Jadi, migrain sebelah obatnya apa?

Mungkin bukan cuma satu. Tapi yang jelas: tidur cukup, air putih, hindari stress, dan kalau perlu, cari tetangga yang punya kebun tanaman obat.

Karena kadang, yang kita butuhkan bukan hanya tablet, tapi juga ketenangan dan pola hidup yang lebih damai.

Ini namanya “Holistic Healing” – Penyembuhan yang gak cuma nyasar ke kepala, tapi juga ke hati.

Dan kalau kamu masih bertanya, “Apa obatnya migrain sebelah?”, jawabannya bisa jadi dimulai dari pertanyaan, “Sudah sayang sama diri sendiri belum?”

Sakit kepala, tapi endingnya bijak.

Begitu, Sob.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *