Di sebuah kontrakan kecil pinggir kota, tinggalah seorang lelaki yang selalu kalah dalam dua hal: adu argumen dengan istri, dan migrain. Namanya Bambang. Kerjanya biasa saja—pegawai gudang yang lebih sering digudangin daripada kerja. Tapi hidup Bambang berubah total sejak malam itu.
Hari itu, migrain datang tanpa permisi. Kepala sebelah kanannya cenat-cenut kayak habis ditabok kenangan mantan. Di rumah, istri udah mulai bawel.
“Bang! Jangan cuman ngeluh, cari solusi kek!”
Bambang, yang dari tadi udah menggeliat di sofa kayak ikan lele kena setrum, cuma bisa mendesah, “Aku udah minum obat, Mah. Tapi ini migrainnya keras kepala, kayak… kamu kalau marah.”
Ini namanya “Pain Management via Humor” – Nyeri kepala dilawan dengan kepala dingin… dan candaan garing.
Tapi istri Bambang bukan tipe wanita yang menyerah hanya karena suaminya malas gerak. Ia pun datang membawa benda kecil berbau nostalgia: Vicks Vaporub.
“Ini lo coba olesin! Katanya bisa bantu migrain juga!” katanya sambil nyodorin Vicks dengan ekspresi yakin 60%, pasrah 40%.
Bambang ngeliatin Vicks itu lama, penuh curiga. “Ini kan buat masuk angin?”
“Terserah mau buat apa, yang penting kamu olesin. Kepala kamu kayak balon bocor dari tadi!”
Ini namanya “Multifungsi Mentality” – Ketika satu produk dipakai dari kepala sampai ke drama rumah tangga.
Dengan pasrah tapi penasaran, Bambang olesin Vicks di pelipis. Langsung ada sensasi dingin menyengat, kayak abis dighosting gebetan pas masih PDKT.
“Nah, gitu! Olesin juga di belakang leher, Bang. Terus hirup juga dikit dari tangan,” kata istri yang tiba-tiba berubah jadi dukun digital, hasil nonton lima video TikTok dari ibu-ibu sejuta jurus.
Ternyata, perlahan-lahan, rasa cenat-cenut itu berkurang. Bambang melongo. “Lah, ini beneran ngaruh…”
Ini namanya “Traditional Trick Therapy” – Ketika solusi murah mengalahkan mahalnya resep dokter.
Besoknya, Bambang bawa Vicks ke kantor. Temen kerjanya, Ucok, penasaran liat dia ngolesin Vicks di pelipis kayak atlet sebelum bertanding.
“Lagi masuk angin, Bang?”
“Bukan, migrain.”
“Hah? Vicks buat migrain?”

Dengan gaya kayak motivator sukses MLM, Bambang menjawab:
“Bro, olesin di pelipis, belakang leher, dan hirup dikit. Seketika dunia yang remang-remang jadi terang. Kepala ringan, hidup pun tenang.”
Ini namanya “The Evangelist Effect” – Sekali berhasil, langsung promosi ke semua umat.
Hari-hari berikutnya, kantor jadi wangi Vicks. Satu ruangan penuh pegawai dengan pelipis mengilap kayak habis lomba panjat pinang.
Tapi seperti semua kisah, pasti ada satu orang skeptis. Namanya Pak Arman, kepala bagian yang selalu anggap segala hal harus lewat medis dan logika.
“Vicks buat migrain? Itu sugesti doang!”
Tapi suatu hari, Pak Arman sendiri kepepet. Rapat penting, kepala nyut-nyutan, dan Panadol habis. Dengan berat hati, dia nyamperin Bambang.
“Boleh pinjam Vicks-nya, Bang?”
Ini namanya “Humbled by Headache” – Kadang logika takluk oleh rasa nyut yang menyiksa.
Setelah itu? Kantor mereka ganti julukan: bukan lagi “Gudang Serba Ada”, tapi “Gudang Serba Vicks.”
Dan dari cerita Bambang, kita belajar banyak hal:
- Pelipis adalah titik kunci. Olesin di situ kalau migrain nyerang. Ini titik yang deket saraf kepala, jadi sensasi mentol bisa bantu redakan nyeri.
- Belakang leher juga penting. Di sini banyak otot tegang penyebab sakit kepala. Dingin dari Vicks bisa bantu rileksin daerah situ.
- Aroma Vicks itu bukan sekadar nostalgia. Mentol dan eucalyptus-nya punya efek melegakan, bikin nafas plong, dan kepala adem.
- Ketiak? Jangan. Ini migrain, bukan lomba nguji ketahanan mentol.
- Jangan sampai kena mata. Vicks itu sahabat kepala, musuh kelopak mata.
Ini semua namanya “Applied Common Sense” – Ilmu warung yang kadang lebih manjur daripada konsultasi berbayar.
Dan Bambang? Dia sekarang bukan lagi korban migrain, tapi pelopor pengobatan alternatif ala emak-emak. Bahkan di grup WA RT, dia sering jadi narasumber dadakan.
“Bang, kalo anak saya susah tidur, Vicks juga bisa gak?”
“Coba aja, Bu. Tapi inget, migrain beda sama ngambek gara-gara PR matematika.”
Ini namanya “From Patient to Prophet” – Ketika pengalaman pribadi jadi wahyu buat orang lain.
Jadi, kalau kamu ditanya:
“Di mana kamu harus menaruh Vicks saat migrain?”
Jawab aja:
“Pelipis, belakang leher, dan hidupmu yang penuh tekanan.”
Karena kadang, yang kamu butuh bukan solusi mahal. Tapi Vicks, tangan dingin, dan pasangan yang cerewet tapi peduli.
Dan dari semua ini, satu hal penting yang kita petik:
Jangan remehkan kekuatan produk warisan zaman dulu. Bisa jadi, yang kita anggap remeh itu justru jadi penyelamat di saat genting.
Ini namanya “Legacy Over Luxury” – Keajaiban bisa datang dari benda kecil yang sering kita sepelekan.
Sekarang tinggal satu pertanyaan:
Kamu tim Vicks atau tim ngeluh terus-terusan?