Di sebuah kantor kecil di sudut kota, ada seorang pegawai yang dikenal dengan gelar tidak resmi: Ratu Begadang. Namanya Mita. Pekerjaannya sih standar—data entry. Tapi kebiasaannya? Nonton drama Korea sampai subuh, baru tidur menjelang adzan subuh berkumandang. Masuk kerja jam 8 pagi dengan mata panda selevel panda asli.
Suatu hari, pas lagi meeting pagi, Mita mendadak tutup kepala pakai jilbab kayak mau main petak umpet. Mukanya tegang, tangannya mijit-mijit pelipis.
“Kenapa, Mit?” tanya bosnya.
“Sakit kepala, Pak… nyut-nyutan. Kayak ada marching band konser di otak saya.”
Bosnya cuma angguk-angguk. “Itu namanya migrain, Mit. Gara-gara kurang tidur tuh.”
Ini namanya “Biang Kerok Lifestyle” – Ketika pola hidup sendiri jadi penyebab utama drama hidup.
Mita ngeluh, “Tapi Pak, masa cuma karena tidur kurang, kepala bisa senyut-senyut gini?”
Nah, di sinilah plot twist kehidupan dimulai.
Menurut pakar kesehatan (dan juga nenek-nenek tetangga sebelah), tidur bukan sekadar rebahan manja. Tidur itu proses pemulihan otak dan tubuh. Kurang tidur? Otak marah. Sistem saraf ngamuk. Pembuluh darah melebar kayak jalan tol di libur panjang. Akhirnya, muncullah dia: Migrain, si tamu tak diundang.
Ini namanya “Neurological Payback” – Ketika otak balas dendam karena kita hobi begadang.
Dan bukan cuma Mita lho yang ngalamin. Temennya, Jono, yang hobi main game sampai dini hari, juga sering kena. Tapi bedanya, Jono malah bangga.
“Bro, migrain tuh kayak tamparan cinta dari otak gue. Artinya gue hidup!”
Ini namanya “Toxic Pride” – Bangga akan gaya hidup yang justru merugikan.

Padahal, para ahli udah bilang: kurang tidur itu bisa bikin otak lebih sensitif terhadap pemicu migrain. Otak yang seharusnya bisa tenang, malah jadi lebay. Sedikit stres langsung meledak. Lampu terlalu terang? Boom. Suara tetangga nyanyi? Boom. Ketinggalan motor lewat? Boom.
Semua jadi pemicu migrain. Dan tahu nggak yang paling ngeselin? Kadang kita bahkan nggak tahu apa pemicunya. Tiba-tiba aja, “Jreng! Migrain datang!”
Ini namanya “Surprise Attack” – Migrain suka drama dan suka dadakan.
Suatu hari, kantor Mita kedatangan dokter perusahaan buat edukasi kesehatan. Mita, tentu saja duduk di baris paling depan. Sambil pegang botol minyak angin.
Dokternya bilang begini, “Otak manusia itu kayak mesin. Kalau mesin dipaksa jalan terus tanpa istirahat, ya rusak. Migrain itu alarmnya.”
Terus dia lanjut, “Kurang tidur bikin kadar serotonin di otak menurun. Nah, serotonin ini penting buat ngatur rasa sakit. Kalau dia turun, migrain naik pangkat.”
Mita langsung angguk-angguk penuh kesadaran. Ini namanya “Enlightenment Moment” – Saat kenyataan menampar lebih keras daripada mantan.
Tapi, setelah sesi edukasi selesai… apa Mita langsung tobat?
Hahaha. Tentu tidak.
Besoknya dia update status, “Baru nonton 12 episode nonstop. Mata perih, tapi hati bahagia.”
Dan tiga jam kemudian: izin nggak masuk kerja karena migrain.
Ini namanya “Repeat Sins” – Kesalahan yang diulang-ulang karena kebahagiaan instan lebih menggiurkan dari kesehatan jangka panjang.
Akhirnya, bosnya pun bikin peraturan baru: jam kerja fleksibel, tapi harus jaga kualitas tidur. Siapa yang ngeluh migrain dan ketahuan begadang? Potong jatah jajan di pantry seminggu penuh.
Mita langsung panik. “Ya ampun, itu artinya nggak bisa makan biskuit kelapa favorit aku dong!”
Ini namanya “Hit Where It Hurts” – Ancaman paling efektif adalah yang menyentuh hobi pribadi.
Dan akhirnya… barulah ada perubahan. Mita mulai tidur jam 10 malam. Jono pun ikut-ikutan, karena katanya, “Kalau Mita bisa berubah, gue juga nggak mau kalah.”
Migrain mereka perlahan berkurang. Hidup jadi lebih damai, dan kepala jadi lebih bersahabat. Mereka sadar, ternyata kualitas tidur lebih penting daripada ending drama Korea atau naik level di game online.
Ini namanya “Healing with Habits” – Mengubah kebiasaan demi kesehatan jangka panjang.
Dan begitulah akhir kisah Mita dan migrainnya.
Jadi, kalau kamu masih suka nunda tidur demi scroll TikTok atau nonton video kucing sampe subuh… ingatlah Mita. Dan pikirkan baik-baik:
Apakah lucunya video kucing sebanding dengan nyut-nyutan migrain di pagi hari?
Kalau iya, silakan lanjut.
Kalau nggak…
Ini saatnya tidur. Sebelum otakmu marah.