(Sebuah kisah penuh nyeri, satire, dan realita)
Di suatu sore yang tenang, saat langit mendung tapi dompet tetap kosong, datanglah tamu tak diundang: migrain sebelah kanan. Ia datang bukan mengetuk pintu, tapi langsung menendang kepala bagian kanan. Dada masih lapang, tapi kepala mendadak berasa dipukul palu godam. Dan di tengah pusing tujuh keliling itu, muncul pertanyaan eksistensial:
“Ini migrain tanda apa ya? Jangan-jangan… jangan-jangan ini pertanda hidup terlalu banyak mikirin orang yang nggak mikirin kita?”
Ini namanya “Overthinking Consequence” – Akibat kebanyakan mikir hal yang nggak dibayar.
Mari kita mundur sedikit. Bayangin otak kita kayak kantor pusat perusahaan. Tiap bagian punya divisinya. Ada yang ngurus rasa senang, ada yang ngurus rasa sayang (yang kadang lembur ngasih ke orang yang salah), dan ada juga divisi sakit kepala sebelah—yang belakangan ini kerja keras terus.
Migrain sebelah kanan ini biasanya dipicu oleh beberapa hal: kurang tidur, stres, dehidrasi, hormon, bahkan suara tetangga nyetel sinetron keras-keras jam 2 pagi juga bisa memicu. Tapi tunggu… katanya kalau sakit kepala di bagian kanan, itu lebih sering dikaitkan dengan neurological issues. Serius, ini bukan lelucon.
Ini namanya “Right Side Riot” – Kerusuhan saraf di jalur kanan.
Kadang kita terlalu sibuk nyari jawaban di Google sampai lupa tanya ke diri sendiri, “Udah minum air putih belum hari ini?” Atau, “Apa kabar jam tidur lo, bro?”
Tapi tetap aja, kalau udah migrain kanan disertai mual, pikiran jadi liar. Apakah ini tumor? Atau efek makan gorengan semalam yang dicocol sambel setan?
Ini namanya “Health Paranoia” – Saat otak jadi dokter, tapi cuma lulusan browsing doang.

Migrain kanan dengan mual bisa jadi tanda migrain klasik, alias migrain dengan aura. Biasanya gejalanya diawali sama gangguan visual, kayak ngeliat kilatan cahaya atau bintik-bintik. Terus berlanjut jadi denyutan tajam di satu sisi kepala, biasanya kanan, lalu disusul rasa mual sampai muntah.
Tapi kalau migrain muncul secara tiba-tiba, parah, dan nggak biasa, lo harus hati-hati. Bisa aja itu pertanda stroke ringan atau hal yang lebih serius. Jadi, kalau rasa pusing itu datang kayak utang jatuh tempo, dan disertai gejala aneh lain, mending buru-buru ke dokter, bukan ke dukun.
Ini namanya “Better Safe than Sorry” – Mending waspada daripada diinfus.
Ada juga yang bilang, migrain sebelah kanan itu sering muncul karena posisi tidur yang salah. Bayangin deh, lo tidur nungging miring kanan sambil meluk guling, tapi kasur udah seminggu nggak diganti sprei. Kepala lo protes, tapi lo kira itu mimpi buruk.
Ini namanya “Sleeping Sabotage” – Merusak diri sendiri dalam tidur.
Dan jangan salah, emosi juga bisa jadi pemicu migrain kanan. Pernah denger pepatah “hati yang tenang adalah obat”? Nah, kalau hati lo penuh racun iri, dengki, atau kepikiran kenapa mantan bahagia padahal dulu dia yang salah, ya jangan heran kalau otak lo ikut ngamuk.
Ini namanya “Emotional Explosion” – Ketika perasaan bikin kepala kebakaran.
Kadang kita terlalu sibuk nyari solusi dari luar. Obat, terapi, essential oil, pijat refleksi, totok aura. Tapi lupa bahwa migrain kadang muncul karena kita maksa badan kerja terus, padahal alarm tubuh udah bunyi.
Migrain bukan cuma penyakit, kadang dia itu pengingat. Pengingat bahwa lo udah terlalu lama pura-pura kuat.
Ini namanya “Silent Protest” – Tubuh lo bilang ‘cukup’, tapi lo malah bilang ‘tanggung dikit lagi’.
Ada orang yang tiap kali migrain, bukannya istirahat, malah lanjut kerja sambil ngerintih kayak lagi syuting sinetron. Ada juga yang lebih memilih rebahan total sambil nonton FYP TikTok dengan brightness maksimal—padahal cahaya bisa makin memperparah migrain.
Ini namanya “Fight or Flight or Scroll” – Respon otak antara kabur, bertahan, atau nonton konten receh.
Nah, jadi migrain kanan itu tanda apa?
Ya tanda bahwa mungkin lo butuh rehat. Mungkin lo perlu berhenti mikirin hal-hal yang bahkan nggak ngasih lo gaji. Mungkin lo harus mulai minum air putih lebih rajin dari nge-stalk IG mantan. Dan yang paling penting, mungkin ini saatnya lo dengerin tubuh, bukan ego.
Ini namanya “Listen to Survive” – Dengerin badan sendiri biar nggak nginep di IGD.
Akhir kata, migrain itu bisa jadi berkah. Iya, berkah. Karena dia nyuruh lo berhenti sejenak. Menepi. Mikir ulang. Ngecek ulang: hidup ini masih jalan sesuai tujuan, atau udah ngikutin arus cuma biar kelihatan sibuk?
Karena kadang, rasa sakit itu datang bukan buat nyiksa. Tapi buat nyadarin.
Bahwa hidup bukan cuma soal ngejar, tapi juga soal berhenti.
Dan migrain, si tamu nyebelin yang datang tiba-tiba itu… kadang lebih jujur daripada sahabat lo sendiri.
Moral of the story?
Migrain kanan bukan cuma urusan medis. Kadang dia adalah sinyal dari kehidupan yang lo anggap biasa-biasa aja, padahal udah lama minta diperhatikan.
Ini namanya “Message Behind the Pain” – Setiap sakit, ada pesan yang ingin disampaikan. Tinggal lo mau dengerin atau nggak.