Di sebuah kepala yang terlalu sering berpikir keras, tinggalah seorang migrain. Dia bukan makhluk asing. Dia seperti mantan toxic—datang tanpa diundang, pergi pas kita udah nyerah.
Suatu hari, si Migrain datang lagi. Tanpa basa-basi, tanpa permisi. “Dug dug dug!” detaknya kayak konser metal dalam batok kepala. Si pemilik kepala, sebut saja namanya Andin, langsung rebahan sambil merem melek.
Ini namanya “Uninvited Guest” – Datang seenaknya, pulang suka-suka.
Andin udah nyobain semua. Minum air putih segalon? Udah. Tidur cukup? Cukup sih… tapi scroll TikTok sampai jam dua pagi, itu bisa dihitung tidur berkualitas? Belum tentu.
Akhirnya, Andin ngeluh ke temennya, Dita, yang sok tahu tapi sering bener.
“Gue udah minum obat warung, tetep kambuh juga,” kata Andin sambil mijet pelipis.
Dita, dengan gaya sok dokter, jawab,
“Obat itu cuma damai sesaat, Din. Lu harus tahu apa pemicunya. Ini namanya Root Cause Analysis. Pake logika detektif, bukan logika mantan!”
Ini namanya “Detective Mode” – Cari penyebab, bukan cuma peredam.
Lalu dimulailah investigasi ala Sherlock. Si Dita ngajak Andin bikin Migraine Tracker.
Hari pertama: Migrain kambuh pas abis ngopi 2 gelas.
Hari kedua: Kambuh lagi pas makan mie instan sambil ngedit kerjaan jam 11 malam.
Hari ketiga: Kambuh pas ngeliat notif saldo tinggal 14 ribu.
Dari sini kita tahu, pemicu migrain bisa jadi kombinasi dari:
- Kafein berlebihan
- Makanan instan tinggi MSG
- Stres akut, termasuk stres liat tagihan
Ini namanya “Know Your Enemy” – Kenali musuhmu, baru bisa menang.
Tapi, tentu saja, solusi bukan cuma soal menghindari makanan atau tidur cukup. Kadang hidup memang melelahkan. Tapi seperti kata pepatah, “Kalau kepala lo rusak, jangan salahkan helmnya.”
Andin akhirnya sadar satu hal:
Selama ini dia hidup dalam mode Survive, bukan Thrive. Bangun tidur langsung buka email, sarapan sambil jalan, kerja sambil nyumpahin klien. Ini bukan hidup, ini maraton stres!

Akhirnya, Andin coba hal baru:
– Jalan pagi 20 menit sambil denger lagu jazz
– Meditasi 5 menit sebelum tidur
– Air putih ditambah lemon, biar fancy dikit
– Dan yang paling penting: belajar bilang “TIDAK” sama kerjaan yang bukan urusan dia
Ini namanya “Self-Respect” – Jaga dirimu dulu, baru jaga deadline.
Tapi namanya hidup, kadang kita kambuh juga. Hari itu, Andin udah rapi, udah sehat, tapi migrain tetep nyelonong masuk kayak mantan yang tiba-tiba ngajak ketemu.
Bedanya, kali ini Andin siap.
Dia punya minyak esensial peppermint yang wanginya kayak spa mahal. Dia tahu titik-titik pijat di pelipis dan leher. Dia juga tahu, kalau udah mentok, ada obat yang lebih ampuh dari sekadar parasetamol murahan—ya, dengan resep dokter pastinya.
Ini namanya “Well Prepared Warrior” – Bawa senjata sebelum perang.
Temennya, Dita, ketawa waktu lihat Andin bisa ngadepin migrain dengan gaya.
“Dulu lo lemes kayak lontong. Sekarang, lo kayak nasi padang—kuat, lengkap, dan berani!”
Andin cengengesan.
“Sekarang gue tahu, migrain itu kayak alarm. Dia ngingetin gue: ‘Hey, lo terlalu keras sama diri lo sendiri!’”
Ini namanya “Listen to the Pain” – Kadang sakit itu guru yang jujur.
Akhirnya, Andin nggak sepenuhnya bebas dari migrain. Tapi dia udah ngerti pola-pola misteriusnya. Migrain jadi kayak temen nyebelin yang nggak bisa diusir, tapi bisa diajak kompromi.
Maka dari itu, kalau lo sering kena migrain, jangan buru-buru nyari obat. Cari tahu dulu:
– Apakah lo kurang tidur?
– Terlalu banyak gadget?
– Kurang minum air?
– Atau… terlalu banyak mikirin orang yang nggak mikirin lo?
Ini namanya “Emotional Detox” – Kadang penyebabnya bukan fisik, tapi batin yang kedinginan.
Sebab, migrain bukan hanya tentang sakit kepala. Dia bisa jadi sinyal bahwa tubuh lo lelah, pikiran lo bising, dan hati lo kurang pelukan.
Jadi, sebelum lo tanya “obatnya apa?”, mending tanya dulu, “Apa yang bikin gue begini?”
Karena mencegah lebih baik daripada gelundungan di kasur sambil gelap-gelapan.
Dan kalau suatu hari migrain itu datang lagi, lo tinggal bisikin,
“Aku udah siap. Kali ini, yang menang gue, bukan lo.”
Ini namanya “Victory in Silence” – Menang tanpa harus ribut.