Di sebuah negeri bernama “Kepala Gue Berdenyut”, hiduplah seorang rakyat biasa bernama Riko. Kerjanya jaga warnet, hobinya main game sampai pagi. Tapi sejak tiga minggu terakhir, hidup Riko berubah… bukan karena cinta, tapi karena migrain.
“Bro, kepala gue cenut-cenut kayak lagi digetok palu godam,” keluhnya ke temennya, Seno, sambil nahan nyeri dan nyengir kayak abis nonton stand-up komedi yang kurang lucu tapi harus tetap menghargai.
Ini namanya “Silent Killer with Sound Effects” – Migrain itu datang diam-diam, tapi efeknya kayak konser metal di kepala sendiri.
Seno yang sok tahu langsung nyeletuk,
“Lo makan aja cokelat! Enak tuh, bikin bahagia!”
Riko pun nurut. Dia sikat satu batang cokelat ukuran jumbo, berharap rasa manisnya bisa mengalahkan rasa sakit di kepala. Lima menit kemudian, kepalanya bukan cuma cenut-cenut, tapi udah naik level jadi “meledak pelan-pelan”.
Ini namanya “Plot Twist di Dunia Nyata” – Yang dikira penyelamat, ternyata pengkhianat.
Yup, kenyataannya, cokelat itu salah satu makanan trigger buat sebagian penderita migrain. Bukan nyembuhin, malah bikin konser tambah meriah.
Lalu datanglah sang penyelamat, nenek Riko, yang tiba-tiba muncul dari dapur bawa sepiring nasi hangat dan irisan timun.
“Makan ini dulu, Nak. Jangan banyak jajan aneh-aneh.”
Riko bingung, “Nek, nasi doang lawan migrain?”
Neneknya cuman senyum simpul,
“Kadang, yang paling sederhana itu yang paling manjur.”
Ini namanya “The Power of Simplicity” – Kadang solusi migrain bukan dari camilan kekinian, tapi dari nasi putih dan sayur rebus.
Ternyata, buat yang sering kena migrain, tubuh itu sensitif banget. Makan telat sedikit, bisa langsung ngirim notifikasi ke kepala dalam bentuk sakit berdenyut. Jadi, makanan yang bagus saat migrain bukan soal “rasa”, tapi “fungsi”.
Makanan yang tinggi magnesium kayak pisang, alpukat, dan bayam bisa bantu otot-otot di kepala rileks. Makanan yang mengandung riboflavin kayak telur, susu, dan kacang almond juga bisa bantu meredakan frekuensi migrain. Tapi ingat, semua ada takarannya. Kelebihan bisa jadi bumerang.

Ini namanya “Food is Medicine, but Only if You Read the Label Right” – Makanan bisa jadi obat, asal lo tahu yang mana racun dan yang mana penolong.
Sementara itu, di tempat lain, ada orang yang kalau migrain malah langsung nyari kopi. Katanya sih, kafein bantu nyempitkan pembuluh darah di otak dan ngurangin nyeri. Tapi sayangnya, kalau udah kebiasaan ngopi dan tiba-tiba stop, migrainnya malah makin parah.
Ini namanya “Coffee Dilemma” – Minum bisa lega, berhenti bisa sengsara.
Balik lagi ke Riko. Setelah dua minggu mencoba semua saran dari dunia dan akhirat, dia akhirnya nemu formula pribadi: makan teratur, hindari MSG berlebih, banyak minum air putih, dan yang paling penting… gak drama setiap kali migrain datang.
Suatu hari, Riko lagi asik nyuap nasi uduk sambil senyum-senyum. Seno dateng lagi, kali ini bawa burger dan es kopi literan.
“Bro, nyobain ini dong! Lagi viral!”
Riko cuman melirik, “Gue udah viral duluan, No. Viral karena gak pingsan tiap migrain.”
Ini namanya “Knowing Yourself is Half the Cure” – Setiap orang punya pemicunya sendiri. Kenali tubuh lo, baru deh bisa ngasih solusi yang tepat.
Makan enak itu hak semua orang, tapi buat penderita migrain, enak aja gak cukup. Harus aman. Harus tahu batas. Harus tahu mana yang bikin tenang, bukan bikin kepala berdentam kayak gendang dangdut.
Dan yang paling penting, jangan percaya 100% sama semua saran Google atau tetangga sebelah. Kadang solusi paling mujarab itu datang dari mendengarkan diri sendiri. Termasuk saat milih makanan.
Akhir cerita, Riko akhirnya bisa hidup normal, kerja tanpa takut tiba-tiba kepala jedag-jedug kayak lampu disko. Semua berkat makan yang tepat, tepat waktu, dan gak termakan bujukan “influencer sakit kepala”.
Karena pada akhirnya…
Ini namanya “Cuan Sehat” – Ketika kamu bisa kerja tanpa terganggu migrain, cuma karena tahu apa yang harus dimakan.
Jadi, migrain bagusnya makan apa?
Jawabannya bukan satu kata. Tapi bisa dirangkum jadi satu kalimat:
“Makanlah yang membuatmu tetap tenang, bukan hanya kenyang.”