Di sebuah kantor megah di tengah kota, seorang karyawan bernama Toni lagi nunduk di balik layar monitor, sambil pegang kening. Bukan karena abis mikir keras nyari solusi buat dunia, tapi karena migrain yang nyut-nyutan.
Bosnya lewat, ngeliat Toni meringis.
“Kenapa lo, Ton?”
“Migrain, Pak.”
“Ah, biasa. Saya juga tiap awal bulan migrain—ngeliat tagihan kartu kredit.”
Ini namanya Relatable Excuse – Semua orang pernah ngerasa sakit kepala, cuma penyebabnya beda-beda.
Toni akhirnya izin ke klinik kantor. Suster langsung sodorin teh hangat dan bilang, “Coba tenangin pikiran dulu ya, Mas. Migrain itu temennya stres.”
Toni bengong. “Lah, saya stres karena migrain, Mbak.”
Suster ketawa. “Nah tuh, migrain juga stres karena kamu stres. Jadi saling menyiksa.”
Ini namanya Toxic Relationship – Bahkan sakit kepala pun bisa jadi hubungan yang saling menyakiti kalau nggak diputusin dengan tepat.
Setelah dikasih obat dan ditanyain keluhannya, Toni balik ke meja. Temennya, Rina, nyeletuk,
“Migrain berapa lama sih biasanya?”
Toni jawab santai, “Kalau migrain cinta sih bisa seumur hidup. Tapi kalau yang ini, katanya dua jam juga bisa hilang, asal…”
“Asal apa?”
“Asal bukan pas deadline!”
Ini namanya Migrain Selective – Dia muncul pas waktu paling nggak tepat dan betah kalau ada tekanan.

Sebenarnya, migrain bisa berlangsung antara 4 sampai 72 jam. Tapi itu bukan aturan baku. Kadang migrain kayak mantan—datang tiba-tiba, pergi nggak bilang-bilang, terus balik lagi pas kita udah move on.
Ada migrain yang hilang dalam 30 menit habis minum obat, ada juga yang nempel kayak kenangan buruk. Kenapa bisa beda-beda?
Ini namanya Migrain Personality – Sama kayak manusia, tiap migrain punya sifat beda. Ada yang kalem, ada yang drama, ada juga yang clingy.
Di ruang sebelah, Pak Made yang udah senior malah cerita:
“Dulu waktu masih muda, saya kena migrain, minum obat, tidur sejam, kelar. Sekarang? Obatnya udah macam koleksi apotek, tapi migrain masih nempel kayak utang negara.”
Anak-anak muda ketawa pahit.
“Sama, Pak. Apalagi kalau habis scroll sosmed. Liat mantan nikah, bonus: migrain plus patah hati.”
Ini namanya Double Combo – Migrain plus emosi pribadi, hasilnya? Kepala cenat-cenut plus galau tak terhingga.
Lalu masuklah si Anya, staf HR yang dikenal selalu tenang.
“Kalau aku migrain, biasanya aku matiin semua lampu, tarik gorden, tidur sambil dengerin suara hujan dari YouTube.”
Toni nyeletuk, “Aku juga tidur, tapi malah mimpi dikejar utang.”
Rina nambahin, “Aku tidur, tapi pas bangun migrainnya pindah jadi lapar.”
Ini namanya Coping Mechanism – Cara orang ngadepin migrain beda-beda. Ada yang minum kopi, ada yang meditasi, ada juga yang nyalahin cuaca.
Karena faktanya, migrain bisa dipicu oleh hal yang absurd.
Kurang tidur? Bisa.
Kebanyakan tidur? Bisa juga.
Makan keju? Bisa.
Nggak makan sama sekali? Wah, itu mah pasti.
Liat notifikasi kerja jam 10 malam? Udah pasti migrain akut.
Ini namanya Unfair Triggers – Migrain nggak kenal logika. Yang penting dia muncul, ngasih efek, terus kabur kayak pelaku ghosting.
Akhirnya, manajer kantor bikin kebijakan baru: “Setiap Jumat, lampu ruangan diredupkan, no meeting, dan boleh pulang lebih awal kalau migrain.”
Semua tepuk tangan.
Toni nyeletuk pelan, “Migrain ini ternyata penyelamat…”
Ini namanya Blessing in Disguise – Kadang, rasa sakit bisa jadi alasan sistem berubah. Asal disampaikan dengan bumbu drama dan air mata.
Tapi di balik semua cerita lucu itu, satu hal jadi jelas:
Migrain itu nyata, mengganggu, dan kadang datang tanpa alasan. Tapi bisa dikendalikan. Bukan dengan marah-marah atau ngumpat, tapi dengan kenali diri sendiri.
Karena tahu durasi migrain itu penting, tapi yang lebih penting adalah tahu penyebabnya. Migrain bukan cuma urusan obat, tapi juga gaya hidup.
Kurangi kopi, tambah tidur. Kurangi drama, tambah senyum. Kurangi scrolling gosip, tambah minum air putih.
Jadi, berapa lama migrain hilang?
Tergantung. Tapi satu yang pasti—dia nggak akan betah di kepala yang bahagia, rileks, dan punya cukup waktu tidur.
Dan kalau semua gagal?
Ya udah, nikmati migrain itu kayak nikmati mantan yang lewat di feed. Sakit, tapi ada juga lucunya.
Ini namanya Laugh through the Pain – Karena kadang, ketawa adalah obat paling cepet, paling murah, dan paling ampuh.
Sementara migrain belum pergi, kita bisa ngopi.
Tapi jangan banyak-banyak, nanti balik lagi tuh dia, ngajak temen sekalian.