Dan kenapa lembab lebih berbahaya dari mantan?
Jadi gini…
Di sebuah kontrakan kecil penuh harapan, tinggal seorang mahasiswa tingkat akhir bernama Darto. Kamar 3×3 meter, kasur busa setipis harapan, dan dinding yang lebih sering nangis daripada Darto sendiri. Lembab. Serius, dindingnya bisa dijadikan eksperimen biologi karena jamur tumbuh subur tanpa pupuk.
Ini namanya “Free Ecosystem” – Lingkungan gratis buat jamur dan nyamuk berkembang biak.
Setiap malam, Darto tidur sambil selimutan pakai jaket hujan. Bukan karena dingin, tapi karena temboknya ngembun. Bangun pagi, alih-alih sarapan, dia harus ngepel air yang netes dari langit-langit.
Akhirnya, Darto buka Google dan ngetik:
“Kenapa kamar saya lebih lembab dari hubungan tanpa kejelasan?”
Keluar jawaban: Pakai dehumidifier.
“Wih, keren juga,” pikir Darto. “Kaya AC, tapi buat nyedot air.”
Langsung semangat, dia buka marketplace. Tapi begitu lihat harganya…
“Empat juta?! Buat mesin yang nyedot air doang? Emangnya bisa nyedot rasa kecewa juga?!”
Ini namanya “Reality Slap” – Ketika teknologi beradu keras dengan isi dompet.
Tapi tenang, Darto nggak menyerah. Karena hidup itu soal akal-akalan. Dia mulai cari tahu: ternyata ada dehumidifier portable sejutaan. Ada juga yang 600 ribu, model mini, cocok buat kamar kecil dan isi kantong mahasiswa.
Namun, ada satu pilihan ultimate: dehumidifier industrial, harga 10 jutaan. Gede, gagah, bisa nyedot satu ruangan penuh bahkan sampai mantan tetangga juga kena isapannya.
Tapi ya, balik lagi…
Darto melirik dompet, lalu melirik kembali dehumidifier impian.
Isi dompet: Rp 78.500.
Isi pikiran: “Beli mie instan dulu aja deh.”
Ini namanya “Financial Prioritizing” – Ketika perut lebih penting daripada teknologi penyedot air.
Nah, di sisi lain kota, tinggal Bu Rika, sosialita setengah pensiun yang baru pindah dari apartemen mewah ke rumah tua warisan kakeknya. Rumah besar, mewah, tapi… aroma khas tanah lembab menyambutnya setiap pagi.
“Ini rumah apa gua purbakala?” gumamnya sambil semprot parfum di dinding.
Akhirnya dia memanggil teknisi interior yang, setelah menghirup satu kali napas, langsung nyeletuk:
“Bu, ini harus pakai dehumidifier ya. Tapi jangan yang ecek-ecek. Minimal 5 jutaan. Kalo bisa yang smart, bisa dikontrol dari HP.”

Bu Rika cuma geleng-geleng, bukan karena shock, tapi karena sinyal Wi-Fi nggak nyampe ke dapur.
Ini namanya “Technology Gap” – Ketika rumah tua ketemu teknologi muda, yang bingung siapa duluan yang harus diselamatkan.
Tapi demi kenyamanan, Bu Rika beli juga. Total biaya:
- Dehumidifier smart: Rp 5.400.000
- Ongkir ekspres: Rp 120.000
- Jasa instalasi: Rp 250.000
- Tukang yang digaji harian tapi kerja setengah: priceless
Total: Rp 5.770.000
Dan itu belum termasuk listrik bulanan yang naik kayak harga cabai pas musim hujan.
Sementara itu, di pojokan lain kota, ada kontrakan Pak RT yang udah lama pakai metode alami: Taruh karung beras di sudut ruangan dan kipasin pakai sandal.
“Ini namanya dehumidifier alami,” kata Pak RT dengan bangga.
“Beras nyerap air, kipas ngusir angin, dan sandal ngusir cicak.”
Ini namanya “Traditional Engineering” – Solusi kuno yang tetap jalan asal logika kuat.
Jadi, berapa biaya dehumidifier?
Tergantung siapa yang beli, dan kenapa beli.
- Kalau Darto, biaya dehumidifier adalah mimpi di tengah tumpukan skripsi.
- Kalau Bu Rika, itu investasi demi ketenangan aromatik.
- Kalau Pak RT? Ya, beras 5 kilo dan sepasang sandal swallow.
Intinya, harga dehumidifier bisa mulai dari Rp 500 ribuan buat yang mini, Rp 1-3 jutaan buat yang rumahan standar, sampai Rp 10 jutaan lebih buat yang industrial atau smart-home level.
Tapi ada biaya lain yang nggak kelihatan…
Biaya kenyamanan. Biaya tidur nyenyak. Biaya baju yang nggak bau apek. Biaya dinding yang nggak berjamur dan bisa bikin kamu mendadak kuliah jurusan mikologi (ilmu jamur).
Ini namanya “Hidden Cost” – Biaya yang nggak kelihatan tapi nyiksa diam-diam.
Dan kadang, keputusan untuk beli dehumidifier itu bukan soal berapa uang yang kamu punya, tapi seberapa lama kamu sanggup hidup dalam hubungan—eh, maksudnya ruangan—yang lembab dan tidak jelas arahnya.
Karena hidup itu kayak ruangan lembab:
Kalau nggak ditangani, bisa bikin semuanya pelan-pelan rusak.
Jadi…
Mau tetap hidup dengan tembok berjamur dan celana dalam bau apek?
Atau mulai investasi buat udara yang lebih sehat?
Terserah kamu.
Karena kadang, yang perlu dikeringkan bukan cuma udara… tapi juga masa lalu yang terlalu basah.