Di suatu kantor dengan suhu AC 16 derajat tapi kerjaan kayak oven pizza, hiduplah seorang karyawan bernama Rudi. Seorang pejuang Excel sejati, tapi juga seorang pengikut tren diet ketat tanpa kompromi. Sejak lihat video motivasi yang bilang, “You are what you eat!”, Rudi langsung puasa makan siang. Katanya, demi otak yang fokus dan tubuh yang lean.

Masalahnya, belum seminggu diet, Rudi udah sering geleng-geleng kepala. Bukan karena musik di playlist-nya, tapi karena kepala cenat-cenut tiap sore.

Ini namanya “Hunger-Induced Headache” – ketika perut protes karena nggak diisi, tapi otak jadi sasaran tembaknya.

Hari Rabu, jam tiga sore, Rudi lagi bales email bos yang subjeknya capslock semua. Baru mau klik “Send”, tiba-tiba…

“DEG!”

Kepala bagian kanan serasa ditabok malaikat pencabut nyawa. Pandangan mulai burem, dan dunia seperti goyang dangdut.

Dia langsung megang jidat sambil ngomong lirih, “Astaga, ini pasti migrain lagi…”

Ini namanya “Warning Sign” – tubuh selalu ngasih sinyal, tapi kadang kita sok kuat dan pura-pura budeg.

Seketika itu juga, rekan kerja Rudi, si Wina, datengin dia sambil bawa gorengan dan es teh manis.

“Rud, lo belum makan ya? Nih, gorengan dulu deh. Jangan pingsan di jam kerja, malu-maluin divisi kita nanti.”

Rudi menolak halus. Katanya, lagi jaga pola. Tapi pas lihat gorengan itu berkilau kayak harta karun di sinar matahari sore, iman mulai goyah.

Ini namanya “Real Temptation” – ketika niat kuat bisa runtuh hanya karena bakwan anget.

Tapi mari kita rehat sejenak dari kisah Rudi. Mari kita bahas: Apakah benar kurang makan bisa menyebabkan migrain?

Jawabannya: Iya, bisa banget.

Saat tubuh kekurangan asupan, kadar gula darah bisa anjlok. Otak yang butuh energi konstan langsung kaget. Alhasil, pembuluh darah di otak mulai “berulah” dan muncullah gejala migrain. Ditambah stres, kurang tidur, dan lampu kantor yang kayak lampu interrogasi, makin lengkaplah penderitaan.

Ini namanya “Biological Chain Reaction” – satu masalah kecil bisa nge-trigger badai besar di kepala.

Balik lagi ke Rudi. Setelah 30 menit berusaha fokus sambil nahan sakit kepala, akhirnya dia menyerah. Dia ngelirik gorengan yang masih nangkring di meja Wina. Perlahan, tangannya meraih satu.

Begitu bakwan pertama masuk mulut, mata Rudi langsung berkaca-kaca. Bukan karena haru, tapi karena itu satu-satunya hal yang bikin hidupnya waras sore itu.

Ini namanya “Back to Basic” – kadang solusi bukan di seminar motivasi atau buku self-help, tapi di perut yang kenyang.

Beberapa menit kemudian, sakit kepalanya mulai mereda. Bukan sepenuhnya hilang, tapi cukup bikin dia bisa ngetik tanpa typo di setiap kata.

Wina senyum-senyum sambil nyeletuk, “Tuh kan, kadang lo nggak butuh vitamin mahal atau essential oil, cukup tempe goreng dan logika sehat.”

Ini namanya “Street Wisdom” – kebijaksanaan kadang datang dari teman satu meja, bukan dari influencer yang makanannya 90% daun.

Tapi ya, jangan salah sangka. Bukan berarti setiap migrain bisa sembuh dengan makan gorengan. Migrain itu kompleks. Bisa karena hormon, kurang tidur, terlalu banyak kopi, bahkan karena cuaca. Tapi salah satu penyebab paling umum yang sering diremehkan ya itu tadi: perut kosong.

Kita hidup di zaman di mana semua orang pengen kurus dalam seminggu, tapi lupa kalau tubuh itu mesin yang perlu bahan bakar. Kurang makan, apalagi tiba-tiba, bisa bikin tubuh kaget kayak habis baca tagihan listrik.

Ini namanya “Crash Diet Trap” – niat sehat, tapi caranya nyiksa diri.

Besoknya, Rudi datang ke kantor sambil bawa bekal sendiri. Isinya nasi merah, ayam panggang, dan sayur tumis.

Wina sampe tepuk tangan, “Akhirnya sadar juga lo!”

Rudi cuma senyum, “Gue sadar satu hal, Win… Otak gue nggak bisa mikir kalau perut gue kosong. Jadi kalau mau waras, ya kudu makan.”

Ini namanya “Balanced Realization” – ketika lo sadar bahwa hidup sehat itu soal keseimbangan, bukan penyiksaan.

Dan sejak itu, Rudi masih diet. Tapi bukan diet ekstrim. Dia makan teratur, pilih makanan bergizi, dan nggak lagi nganggep makan siang sebagai dosa.

Karena buat dia, lebih baik kenyang dan bisa mikir, daripada kurus tapi pingsan di ruang rapat.

Ini namanya “Reprioritizing” – nentuin ulang apa yang penting buat hidup lo: penampilan doang, atau kesehatan yang beneran?

Jadi, kalau besok kepala lo cenat-cenut padahal kerjaan masih segunung, coba tanya ke diri sendiri:
“Udah makan belum hari ini?”

Kalau belum, jangan buru-buru minum obat. Kadang yang lo butuhin bukan apotek, tapi sepiring nasi dan sepotong logika.

Itulah namanya “Listen to Your Body” – karena tubuh itu pintar, asal kitanya mau dengerin.

Apa kamu pernah ngalamin migrain karena perut kosong juga?

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *