Di sebuah kantor kecil nan hangat, berdirilah satu makhluk paling ditakuti: deadline. Semua karyawan terlihat sibuk, kecuali satu—namanya Bu Ningsih. Seorang wanita tangguh, pemilik tiga anak, dua panci besar rendang setiap Lebaran, dan satu penyakit yang paling dia takuti: MIGRAIN.

Suatu pagi, Bu Ningsih duduk dengan wajah kusut seperti kertas nota yang kelipet di dompet. Dia melirik monitor yang penuh angka, lalu berkata lirih,
“Duh, kepala gue cenut-cenut. Kayak ada marching band di dalam tengkorak.”

Anak magang yang duduk di sebelahnya, sebut saja Yoga, langsung gugup. Dia masih baru, dan belum tahu kalau migrain Bu Ningsih lebih sakral dari tanggal gajian.

“Nggak minum kopi pagi ini, Bu?”
“Kopi mah udah dua gelas, Yog. Ini mah pasti gula gue anjlok!”

Ini namanya “Self Diagnosis” — ketika penderitaan datang, manusia akan mencari kambing hitam tercepat. Dan seringkali kambingnya itu… gula.

Yoga bingung. Bukannya migrain itu karena stress, lampu neon yang nyilauin, atau tidur cuma dua jam karena nonton drama Korea? Kenapa malah gula?

Lalu muncullah Pak Benny, HRD sok tahu, yang kalau nggak ngurus absen orang, hobinya nyamber pembicaraan.
“Kurang gula bisa banget bikin migrain, Bu! Gula itu sumber energi utama otak!”

Ini namanya “Half Doctor, Full Confidence” – belum tentu benar, tapi ngomongnya yakin banget.

Tapi anehnya, Bu Ningsih manggut-manggut. Lalu dia buka laci, ambil permen mint, kunyah dua, dan lima menit kemudian… migrainnya ilang.

Yoga bengong.

“Eh… beneran sembuh, Bu?”
“Ya iya. Kan otak gue kekurangan bahan bakar. Udah kayak mobil mogok. Kasih gula dikit, langsung nyala lagi.”

Ini namanya “Instant Gratification” – yang penting sembuh sekarang, soal bener atau enggaknya urusan belakangan.

Namun di sudut ruangan, duduklah Mas Fikri, karyawan paling sepi tapi diam-diam suka baca jurnal medis. Dia nyeletuk sambil tetep ngetik laporan.

“Sebenarnya, gula darah rendah memang bisa memicu migrain, tapi bukan karena manis-manisan, ya. Lebih ke glukosa dalam darah. Kalau nggak stabil, otak bisa protes.”

Ini namanya “Silent Genius” – diem-diem tajam, nggak banyak gaya tapi isinya berisi.

Yoga langsung nanya, “Jadi gimana ceritanya, Mas?”

Fikri menghela napas. “Gini, tubuh kita tuh kayak perusahaan. Gula alias glukosa itu bahan bakar utama. Kalo gula darah turun drastis, terutama buat orang yang belum makan lama, atau abis olahraga berat, atau diet ekstrem, otak jadi kekurangan pasokan energi. Nah, itu bisa bikin migrain.”

Yoga manggut-manggut.
Bu Ningsih juga ikut manggut, sambil tetap ngunyah permen.
Pak Benny? Masih nyambungin hal lain.
“Makanya, saya selalu bawa wafer di tas. Buat jaga-jaga!”

Ini namanya “Preventive Snack Strategy” – makan bukan karena lapar, tapi buat ngelindungin diri dari ‘ancaman medis imajiner’.

Lalu datanglah manajer kantor, Bu Rika.
“Eh, pada ngumpul. Ngobrolin apa?”
“Migrain karena kurang gula, Bu!”
“Lah, saya kalau migrain biasanya karena mantan update status nikah.”

Ini namanya “Psychological Trigger” – bukan gula yang bikin pusing, tapi kenangan pahit yang susah dicerna.

Balik lagi ke pertanyaan awal: Apakah kurang gula bisa menyebabkan migrain?

Jawabannya: Iya, bisa.
Tapi bukan karena kamu gak makan es krim dua hari. Tapi karena kadar gula darah dalam tubuh turun secara drastis. Ini biasa terjadi kalau kamu telat makan, habis aktivitas berat, atau diet ketat sampai otak kehabisan bahan bakar. Otak itu boros, lho—meskipun ukurannya kecil, dia konsumsi sekitar 20% dari seluruh energi tubuh!

Kalau gula darah drop, otak bisa ngamuk. Tanda-tandanya mulai dari pusing, lemas, gemetar, sampai migrain. Jadi wajar kalau Bu Ningsih merasa baikan setelah makan permen. Tapi ingat, solusi cepat kayak gitu nggak selalu sehat kalau dijadiin kebiasaan.

Ini namanya “Sugar Trap” – solusi instan yang manis tapi berpotensi jebakan.

Lebih baik, atur pola makan dengan baik. Sarapan bergizi, makan siang tepat waktu, jangan diet ngawur, dan yang penting: jangan panik kalau kepala cenut-cenut. Belum tentu butuh gula, bisa jadi cuma butuh istirahat atau… butuh gaji naik.

Dan terakhir, seperti kata Mas Fikri:
“Kalau migrainnya sering banget, periksa ke dokter. Jangan self-diagnose terus. Ntar yang dikira kurang gula, ternyata kurang perhatian.”

Ini namanya “Holistic Healing” – karena kadang yang dibutuhkan bukan obat, tapi pelukan.

Jadi, kalau kepala kamu sakit dan kamu langsung cari teh manis atau sebatang cokelat… boleh aja. Tapi pastikan itu memang karena gula darah turun, bukan karena kamu belum bisa move on dari seseorang yang dulu pernah bilang “kita serius, kok.”

Karena kalau begitu ceritanya…
Migrainmu bukan karena kurang gula. Tapi karena hati belum sembuh juga.

Apakah kamu sering sakit kepala saat belum makan?

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *