Di sebuah kota kecil yang penuh dengan angin sore dan tetangga tukang gosip, tinggallah seorang pria bernama Andra. Umurnya tiga puluh dua, jomblo, dan dikenal sebagai pawang sakit kepala sejati—bukan karena bisa menyembuhkan, tapi karena langganan migrain.

Suatu hari, migrain datang seperti mantan yang gak tahu waktu: tiba-tiba, gak diundang, dan bikin rusuh.

Andra, yang awalnya cuma niat nonton video lucu sambil rebahan, tiba-tiba ngerasa kayak ada marching band manggung di dalam kepalanya. Jeng-jeng-jeng! Lampu kamar langsung jadi tersangka utama. Terang banget, kayak neraka diskonan.

Tapi dasar manusia penuh harapan, Andra malah buka kulkas, ambil kopi dingin, dan minum dengan penuh optimisme.

Ini namanya “Self Sabotage” – Niatnya sembuh, tindakannya malah ngajak ribut si migrain.

Sambil megang kepala, dia pun nyalain TV. Suara sinetron ibu-ibu langsung menggelegar.

“BUKAAAAAA PINTUNYAAA RIOOO!!!”

Andra melotot ke layar sambil ngedumel, “Pintu aja belum dibuka, kenapa kepala gue udah mau pecah?”

Ini namanya “Voluntary Torture” – Udah tahu sakit, tapi masih pengen nonton drama keras volume maksimal.

Lalu datang si tetangga, Mbak Rini, dengan ide brilian.

“Minum kopi lagi aja, Ndra. Katanya kafein bisa bantu migrain.”

Andra manut. Karena waktu migrain, logika sering cuti mendadak. Dia teguk kopi kedua.

Setengah jam kemudian, detak jantung makin cepet, tangan dingin, dan kepala makin berat.

Ini namanya “Ngikutin Saran Buta” – Percaya sama tetangga lebih dari dokter? Siap-siap masuk ICU, bukan seminar kesehatan.

Belum cukup penderitaan, Andra malah iseng scroll-scroll HP, buka grup WhatsApp kantor yang isinya debat tak berkesudahan soal seragam baru.

Satu orang bilang bajunya kekecilan, yang lain bilang kayak baju tim voli. Andra, yang sedang migrain, malah ikut nimbrung ngetik:

“Gue mah setuju aja, yang penting gaji cair.”

Tiba-tiba, kepala cenat-cenut lagi. Kenapa? Karena layar HP terang banget, dan otaknya kayak lagi lari 100 meter sambil dicekik.

Ini namanya “Digital Suicide” – HP adalah senjata makan tuan saat migrain menyerang.

Masih belum selesai. Andra pun merasa lapar. Tapi karena gak kuat masak, dia order makanan pedas level neraka dari warung sebelah: mi goreng cabe 10 biji.

Satu suapan, langsung keringat dingin. Tapi bukan karena pedas, melainkan karena migrain-nya protes keras. Seolah otaknya bilang, “Lu mau gue meledak sekarang juga?”

Ini namanya “Spicy Disaster” – Lagi migrain kok makan sambel? Sama aja minta ditimpuk Tuhan.

Lalu datanglah satu ide paling “cerdas” sepanjang hari: Andra mau mandi air dingin biar seger.

Waduh.

Pas air nyentuh kepala, migrainnya berubah dari konser marching band jadi festival petasan Imlek.

Ini namanya “Cold Shock Therapy” – Kalau mau mati gaya, boleh lah. Tapi mati gaya sambil migrain? Itu kombinasi cari celaka.

Akhirnya Andra menyerah. Dia matiin lampu, masuk kamar, narik selimut, dan peluk bantal kesayangan. Tanpa suara, tanpa cahaya, tanpa drama. Cuma tidur. Dan pelan-pelan, si migrain pun cabut, mungkin karena udah bosan diturutin terus.

Migrain itu bukan sakit kepala biasa. Dia semacam diva. Maunya dimengerti, dikasih panggung, tapi jangan diusik. Salah dikit, dia ngamuk.

Jadi, apa aja sih yang tidak boleh dilakukan saat migrain?

  • Minum kopi berlebihan – Kafein bisa bantu, tapi overdosis malah bikin pusing double kill.
  • Kena cahaya terang – Lampu silau atau layar HP bisa jadi musuh besar.
  • Dengar suara keras – Volume TV atau suara rame bisa memperparah serangan.
  • Makan pedas – Cabai dan migrain itu musuh bebuyutan.
  • Mandi air dingin tiba-tiba – Kepala sensitif terhadap suhu ekstrem.
  • Main HP sambil sakit kepala – Cahaya biru layar HP = bom waktu migrain.
  • Percaya saran tetangga lebih dari medis – No offense, tapi bukan semua saran cocok untuk semua kepala.

Kadang, yang bikin migrain makin susah hilang itu bukan migrainnya sendiri. Tapi tingkah kita yang kayak nyiram bensin ke api. Alih-alih jadi pemadam, malah ikut joget di tengah kobaran.

Jadi, kalau migrain datang, jangan sok kuat. Cukup tarik napas, matikan lampu, tutup tirai, dan rebahan. Kadang, penyembuhan paling ampuh itu bukan minum obat—tapi gak ngapa-ngapain.

Ini namanya “Respect the Pain” – Karena rasa sakit juga butuh dihargai, bukan dilawan.

Dan Andra? Hari itu dia belajar satu hal penting:

Kadang, yang paling menenangkan kepala…
…adalah berhenti ngotot jadi pahlawan.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *