Di sebuah rumah sederhana di ujung kompleks, tinggal seorang ibu rumah tangga bernama Bu Rina. Sejak pagi, dia udah ribut sendiri. Bukan sama anak, bukan juga sama tetangga. Tapi sama migrain.

“Ya Allah… ini kepala kayak ditabok malaikat pake wajan,” keluhnya sambil merem megang dahi.

Suaminya, Pak Budi, yang dari tadi main catur online di HP, cuma nyahut singkat, “Minum paracetamol aja, Rin…”

Tapi Bu Rina, seperti layaknya detektif investigasi di drama Korea, nggak mau terima solusi receh begitu aja. Dia ingin tahu: “Sebenernya, apa sih yang bikin migrain bisa hilang?”

1: Kacau Balau Hormonal

Tiba-tiba, masuk tokoh baru: Hormon.
Si Hormon ini tukang mood swing. Hari ini manis, besok galak. Kadang naik, kadang turun. Nah, pas naik-naiknya nih, otak jadi kenceng kaya kabel STROOM yang ketarik PLN. Migrain pun dateng.

Tapi begitu hormon turun, otak jadi lebih santai. Aliran darah ke otak normal lagi.

Ini namanya “Natural Reset” – Kadang tubuh kita sendiri tahu kapan harus balik ke mode normal. Tapi ya itu… sabar nunggu ‘reset’ nya bisa bikin kepala tambah cenut.

2: Musuh Utama Bernama Stres

Bu Rina akhirnya nyalain lilin aromaterapi, setel musik klasik, dan duduk bersila di lantai.

“Ini katanya bisa ngilangin stres,” gumamnya.

Tiba-tiba masuk tokoh Stres. Mukanya nyebelin. Bawa to-do list segunung, tagihan listrik, dan notifikasi WA dari grup arisan.

Migrain langsung joget. Tapi… pas Bu Rina mulai tenang, mulai napas 4 detik – tahan 4 detik – buang 4 detik, si Stres pun pelan-pelan minggat.

Ini namanya “Zen Power” – Kadang yang dibutuhkan cuma diam dan sadar, bukan drama dan panik.

3: Makan Tepat, Migrain Menyingkir

Bu Rina buka kulkas, ngeluarin sisa pizza semalam. Tapi otaknya langsung demo.

“Halo, ini penyebab migrain minggu lalu tuh keju dan MSG-nya, inget gak?” kata otak, marah-marah.

Akhirnya Bu Rina pilih makan pisang, minum air putih banyak, dan ngemil kacang almond. Migrain mulai lemas.

Ini namanya “Fuel Management” – Kepala juga butuh bensin yang bener, bukan sisa gorengan rapat RT.

4: Tidur, Senjata Pamungkas

Malamnya, Bu Rina rebahan sambil nonton drakor. Tapi matanya udah lima watt. Dia akhirnya menyerah, matiin lampu, dan… Zzz…

Migrain? Langsung kabur tanpa pamit.

Ini namanya “System Shutdown” – Kadang otak kita cuma butuh istirahat, bukan ceramah panjang lebar.

5: Obat-Obatan, Tapi yang Bijak

Besoknya, Pak Budi akhirnya nyodorin obat migrain yang diresepin dokter. Bu Rina minum. Migrain ilang total.

Tapi, Pak Budi ngasih wejangan bijak, “Minum obat itu kayak nyewa tukang, Rin. Bisa cepat beres, tapi kalau tiap hari nyewa, bangkrut juga.”

Ini namanya “Wise Consumption” – Obat boleh, tapi jangan jadi pelampiasan.

6: Akal Sehat dan Kebodohan Musiman

Minggu depan, Bu Rina migrain lagi. Kenapa? Karena begadang nonton sinetron sampai jam 3 pagi.

Migrain datang sambil bawa spanduk:
“Ngapain cari penyebab migrain hilang kalau penyebabnya lo pelihara terus?”

Ini namanya “Self-Sabotage” – Kadang yang nyiksa kepala, bukan dunia. Tapi kita sendiri.

Penutup: Siapa Penjahat Sebenernya?

Jadi, apa yang bikin migrain hilang?

Hormon yang stabil.
Stres yang ditekan.
Makanan yang tepat.
Tidur yang cukup.
Obat yang bijak.
Dan tentu saja: keputusan kita buat nggak nyiksa diri sendiri.

Migrain tuh bukan maling. Dia datang karena kita yang kadang buka pintu. Tapi kabarnya juga bisa kita usir. Asal jangan pura-pura bego pas tahu penyebabnya.

Jadi pertanyaannya sekarang:
Migrain lo ilang karena usaha? Atau karena kebetulan?
Kalau karena usaha, pertahankan.
Kalau karena kebetulan… yah, selamat menunggu episode berikutnya. Kepala cenut-cenut part dua.

Ini namanya “Take Responsibility” – Karena kadang, kesehatan itu bukan tentang obat, tapi tentang keputusan pribadi.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *