Di sebuah kantor kecil yang penuh deadline dan aroma kopi sachet, duduklah seorang karyawan bernama Rina. Di tengah tumpukan dokumen dan notifikasi WhatsApp grup kerja, tiba-tiba dia memegangi kepala. Bukan karena gajinya belum naik. Tapi karena… migrain.
“Ya ampun, sakitnya kayak ada genderuwo joget di dalam otak,” gerutunya.
Ini namanya “Overload Alert” – Otak lo terlalu banyak beban, sampe dia protes dengan cara nyetrum kepala lo dari dalam.
Tapi tunggu dulu, Rina bukan satu-satunya. Di sudut ruangan, Pak Darto—manajer yang tiap hari ngopi tapi nggak pernah ngangkat gelas cucian—juga lagi meringis. Bedanya, dia nggak mau ngaku kena migrain.
“Biasa, kurang tidur aja,” katanya, sambil terus scroll berita saham yang merah semua.
Ini namanya “Denial is Comfort” – Menolak kenyataan itu memang lebih nyaman daripada minum obat dan ke dokter.
Migrain, teman-teman, bukan cuma soal sakit kepala. Dia lebih rumit dari hubungan tanpa status. Dan kadang, lebih menyakitkan.
Kenapa migrain susah banget diatasi?
Mari kita kulik kisah nyata dari sebuah warung kopi kecil di pinggir kota, tempat tiga sobat: Rina, Budi, dan Sinta—ngumpul tiap Jumat malam buat ngobrolin hidup, cinta, dan… migrain.
Rina bilang dia kena migrain karena stres kerja.
Sinta bilang migrainnya kambuh tiap kali PMS.
Budi? Dia migrain tiap kali mantan upload foto tunangan.
Ini namanya “Trigger Is Personal” – Pemicu migrain itu beda-beda, kayak alasan orang ngambek padahal nggak dikasih tahu.
Dokter udah kasih obat, Rina udah coba meditasi, Sinta udah stop makan cokelat (dengan air mata tentunya), dan Budi udah unfollow mantan. Tapi migrain tetap datang, sok akrab, tanpa permisi.
Ini namanya “Mystery Guest” – Datang tanpa diundang, pergi pun nggak pamit. Kayak utang yang dilupain.
Ada banyak faktor kenapa migrain sulit diatasi.
Pertama, penyebabnya kadang nggak jelas. Bisa karena hormon, kurang tidur, makanan, stres, atau bahkan… terlalu terang lampu ringlight.
Kedua, setiap orang punya “resep” migrain-nya sendiri. Obat yang ampuh buat si A bisa jadi cuma bikin si B makin mual.
Ketiga, kadang kita suka salah paham. Dikiranya migrain, padahal tegang leher doang. Dikiranya masuk angin, padahal migrain berat. Dan sebaliknya.

Ini namanya “Misdiagnosis Festival” – Kita kira tahu, padahal cuma nebak.
Sampai akhirnya datanglah tokoh baru: Ibu Eni, tetangga kos Rina yang kerja di klinik.
Dia bilang, “Neng, migrain itu harus dicatat. Kapan kambuhnya, apa yang dimakan sebelum itu, dan gimana cuacanya. Bikin jurnal migrain. Itu penting.”
Rina yang biasanya sibuk bikin laporan keuangan mulai bikin laporan migrain. Dan ternyata, benar. Migrainnya lebih mudah diprediksi.
Ini namanya “Tracking Power” – Nge-track pola itu bikin hidup lebih terarah. Bukan cuma buat diet, tapi juga buat otak.
Tapi walaupun udah dicatat, dihindari, dan diobati… kadang migrain tetap aja mampir. Seolah-olah dia lagi nyari jodoh.
Dan inilah yang bikin banyak orang frustrasi.
“Gue udah coba semuanya, tapi kok masih kena migrain juga?”
Ini bukan salah kamu. Kadang memang si migrain ini ngeyel. Ada unsur genetik. Ada faktor lingkungan. Ada yang udah minum air putih seember pun tetap kena.
Ini namanya “Life Is Unfair” – Tapi bukan berarti lo harus nyerah.
Solusinya bukan cuma di satu titik. Kadang butuh kombinasi: gaya hidup sehat, tidur cukup, olahraga ringan, makanan teratur, obat yang cocok, dan tentu saja… sabar. Karena migrain suka datang pas kita lengah.
Oh, dan satu lagi.
Jangan bandingin rasa sakitmu sama orang lain.
Ada yang migrain dan tetap bisa kerja. Ada yang harus gelap-gelapan dan nggak bisa buka mata sama sekali. Semua valid.
Ini namanya “Pain Is Personal” – Jangan ukur rasa sakit orang pakai standar lo.
Akhir cerita, Rina masih migrain sesekali. Tapi dia udah lebih siap. Dia tahu pola tubuhnya. Dia tahu kapan harus istirahat dan kapan harus berhenti ngoyo.
Dan yang terpenting, dia nggak lagi merasa sendirian.
Karena ternyata, banyak orang di luar sana yang juga bertarung dengan migrain diam-diam. Dan mereka tetap bertahan.
Ini namanya “Silent Warrior” – Pahlawan yang nggak selalu terlihat, tapi selalu berjuang.
Jadi kalau hari ini kamu migrain, duduk dulu. Tarik napas. Tenangin diri. Mungkin bukan salahmu. Mungkin cuma saatnya tubuh bilang:
“Eh, istirahat dulu napa. Jangan kayak dunia ini nggak bisa jalan kalau kamu nggak kerja.”
Dan itu… masuk akal, kan?