Di suatu pagi yang lembapnya luar biasa, seorang pria bernama Darman keluar dari rumah. Baru dua langkah dari teras, keningnya sudah basah. Bukan karena jogging, bukan karena hujan. Tapi karena udara pagi itu kayak spons bekas cuci piring — penuh air, lengket, dan gak enak dirasa.
“Gila, ini udara atau kuah mie instan?” gerutunya.
Darman bukan orang sembarangan. Ia adalah ahli strategi cuaca rumah tangga — sebutan yang ia ciptakan sendiri setelah AC rumahnya mogok dua hari. Dalam kondisi seperti ini, dia tahu: ini bukan sekadar kelembapan biasa. Ini kelembapan tingkat dewa. Dan dalam dunia Darman, ada tiga jenis kelembapan:
- Kelembapan nyebelin – Bikin rambut ngembang kayak singa.
- Kelembapan setengah jahat – Bikin baju dalam gak pernah kering.
- Kelembapan level kiamat – Bikin kasur, bantal, dan hubungan jadi lembek semua.
Pagi itu, Darman sadar dia berhadapan dengan yang ketiga.
“Buka Jendela, Katanya. Biar Udara Segar Masuk…”
Istrinya, Rika, punya satu filosofi hidup: semua masalah bisa diselesaikan dengan buka jendela.
Tapi Darman tahu, membuka jendela saat kelembapan tinggi itu kayak ngundang nyamuk buat buka cabang usaha di rumah. Bukan udara segar yang masuk, tapi uap air dan drama sinetron dari tetangga sebelah.
Pelajaran pertama:
“Buka jendela saat kelembapan tinggi itu kayak nambah air ke ember yang udah penuh.”
Solusinya? Nyalakan kipas angin dan arahkan ke arah ventilasi, bukan ke tubuh. Biar sirkulasi tetap jalan tanpa bikin kamu masuk angin secara spiritual dan harfiah.
“Pakai AC dong, kan gampang!”
Itu solusi klasik. Tapi ingat, Darman bukan anak sultan. Tagihan listrik sudah kayak cicilan mobil listrik.
Maka muncullah jurus hemat energi Darman: taruh mangkuk besar berisi garam di beberapa sudut rumah.
“Garam, bro. Seriusan. Dia nyerap kelembapan kayak mantan nyerap perhatian lo waktu masih pacaran,” katanya pada tetangganya yang skeptis.
Dan benar saja. Setelah dua hari, garam itu menggumpal, sementara udara di rumah terasa lebih kering. Lebih nyaman. Lebih hidup.
Pelajaran kedua:
“Kadang solusi besar datang dari dapur, bukan dari toko elektronik.”
“Tapi, pakaian jadi lembap semua!”
Nah, ini tragedi rumah tangga sejuta umat. Pakaian bersih yang digantung di jemuran jadi berbau lembap kayak gudang tua. Darman pernah mencoba semua: setrika kering, semprot pewangi, sampai dijemur lagi pake hair dryer.
Akhirnya, ia menemukan kebenaran hidup:
“Kalau gak bisa jemur di luar, gantung di ruang paling kering sambil nyalain dehumidifier homemade: ember isi arang aktif.”
Dan hasilnya? Kaosnya gak lagi bau “lemari nenek”, tapi balik wangi meski tanpa pewangi.
“Kelembapan bukan cuma soal udara, tapi soal suasana.”
Rika, sang istri, bilang begitu sambil melirik suaminya yang mulai uring-uringan karena kelembapan juga menyerang emosinya. Emang benar, sih. Kelembapan tinggi bikin orang jadi malas gerak, gampang marah, dan mendadak merasa hidup ini terlalu berat untuk dipikirkan sambil keringetan.
Maka, Rika mengeluarkan senjata pamungkas: diffuser aroma terapi. “Kalau udara gak bisa dikeringin, minimal kasih wangi-wangian biar mood gak ikut lepek,” ujarnya bijak.
Pelajaran ketiga:
“Badan bisa lembap, tapi hati tetap harus harum.”

Bonus: Strategi Anti-Jamur Darman
Di hari ketiga, Darman sadar bahwa kelembapan tinggi bukan cuma soal kenyamanan, tapi juga soal keselamatan barang-barang. Sepatunya mulai berbulu putih. Bukannya modis, tapi jamuran.
- Akhirnya dia buat protokol darurat:
- Semua sepatu masuk kotak berisi silica gel.
- Buku-buku diberi jarak antar satu sama lain, biar sirkulasi.
Karpet? Digulung. Karena karpet basah adalah mimpi buruk setiap bapak-bapak yang sayang sama uang.
Pelajaran keempat:
“Kalau kelembapan bikin barang rusak, itu peringatan buat hidup lebih minimalis.”
Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Saat Kelembapan Tinggi?
- Jangan buka jendela sembarangan. Ciptakan sirkulasi udara pakai kipas dan ventilasi.
- Gunakan garam atau arang aktif untuk menyerap kelembapan.
- Jemur pakaian dengan taktik. Kalau gak bisa di luar, jemur di ruangan yang paling kering.
- Jaga suasana hati dengan wewangian atau hal-hal menyenangkan.
- Lindungi barang-barang rentan lembap — terutama sepatu, buku, dan karpet.
Dan terakhir, tetap waras.
Karena kadang, yang bikin hidup terasa berat bukan kelembapan udara… tapi kelembapan hati yang gak bisa kering-kering karena belum move on dari mantan. Eh.
Penutup:
Kelembapan itu seperti ujian hidup. Kalau dihadapi dengan kepala dingin dan trik sederhana, bisa dilalui tanpa harus banting AC atau emosi. Jadi, hadapi dengan gaya, dan jangan biarkan udara menang!