Di sebuah kantor tempat stres menumpuk kayak cucian habis mudik, ada seorang karyawan bernama Andra. Ia bukan pegawai biasa. Ia adalah “Pemegang Rekor Migrain Tahunan” — gelar tidak resmi yang diberikan teman-temannya karena dalam sebulan, minimal tiga kali ia menghilang ke ruang gelap sambil megang jidat.
Hari itu kantor lagi sibuk-sibuknya. Deadline datang bareng hujan deras dan klien bawel. Tiba-tiba Andra berdiri dari kursinya, wajahnya keruh, dan matanya melotot kayak lihat tagihan listrik sehabis pakai AC 24 jam nonstop.
“Gawat… migrain-nya datang lagi…” katanya lirih, sambil memegangi pelipis kayak adegan sinetron pas karakter utama tahu dia anak angkat.
Ini namanya “Early Detection” – Kenali gejalanya sebelum kepala ngajak konser heavy metal.
Seketika suasana kantor berubah. Yang tadinya ribut jadi hening. Semua tahu, ini bukan waktunya nanya hal remeh kayak “udah makan siang belum?” atau “ada snack gratis di pantry?”
Andra pun melipir ke ruang kecil yang biasa dijadikan tempat nangis para pegawai overthinking—alias gudang bekas. Gelap, sepi, dan ada colokan. Cocok buat perang melawan migrain.
Ini namanya “Create Your Safe Space” – Cari tempat adem dan tenang biar kepala nggak makin marah.
Sambil duduk bersila di lantai, Andra membuka tas kecilnya. Di dalamnya ada barang-barang sakral: minyak kayu putih, kacamata hitam, dan satu buah headset yang isinya playlist “suara hujan dan daun jatuh.”
Ini namanya “Survival Kit” – Bawa perlengkapan tempur biar migrain nggak ngerasa jadi bos besar.
Lalu dia mengoleskan minyak di pelipis, leher, dan tangan. Aroma semerbak menyengat menusuk hidung. Kalau bisa ngomong, hidung pasti protes, “Bro, ini minyak kayu putih atau uap pabrik?”
Tapi anehnya, itu bikin lega.
Ini namanya “Aromatherapy Darurat” – Kadang, wangi menusuk bisa bikin kepala nyerah duluan.
Temannya, Dimas, yang dari tadi mantau lewat celah pintu, nanya pelan-pelan.
“Andra, mau gue pijitin dikit kepala lo?”
Andra hanya geleng pelan. “Jangan… Salah pencet, bisa makin parah…”
Ini namanya “Know Your Trigger” – Bukan semua niat baik cocok buat kepala yang lagi demo.
Migrain tuh bukan kayak pegal biasa yang bisa diurut sembarangan. Kalau asal mijit, bisa-bisa nyetrum sampe dengkul.
Makanya Andra lebih milih minum obat pereda nyeri, pakai headset, dan tidur. Tapi tidurnya bukan tidur bahagia. Ini tidur sambil meringkuk, kayak mi instan yang belum diseduh.
Ini namanya “Temporary Shutdown” – Kadang solusi terbaik itu bukan lawan, tapi istirahat total.

Dua jam kemudian, Andra bangun dengan wajah kucel. Tapi senyumnya ada. Seperti abis menang lawan monster level 10.
Temannya langsung nanya, “Udah mendingan?”
Andra jawab, “Lumayan. Udah bisa ngetik tanpa pengen banting keyboard.”
Ini namanya “Recovery Mode” – Jangan langsung loncat ke kerjaan. Pemulihan butuh waktu dan nasi hangat.
Dimas ngangguk-ngangguk, sambil nyeletuk, “Eh, bro… gua juga akhir-akhir ini sering sakit kepala. Tapi bukan migrain sih… Mungkin karena bos kita makin sering ngadain meeting dadakan.”
Andra senyum sambil ngetik pelan. “Itu mah namanya Corporate Pain, bukan migrain.”
Ini namanya “Differentiate the Pain” – Migrain beda sama sakit hati karena kerjaan.
Dari kisah Andra kita belajar satu hal penting: migrain itu bukan manja. Itu kondisi medis. Jangan main-main. Jangan sok jadi dukun dan bilang “Ah, paling lu kurang minum.”
Migrain tuh bisa dipicu sama cahaya terang, suara berisik, makanan tertentu, atau… eksistensi mantan yang muncul tiba-tiba di feed Instagram.
Ini namanya “Trigger Awareness” – Kenali penyebab biar bisa antisipasi, bukan cuma reaksi.
Jadi, apa yang dilakukan saat migrain kambuh?
Cepat kenali tanda-tandanya
Cari tempat tenang dan gelap
Pakai obat bila perlu (dengan dosis yang sesuai)
Hindari pemijatan sembarangan
Istirahat total sampai reda
Jangan memaksakan kerja di tengah serangan
Dan yang paling penting…
Jangan merasa bersalah karena harus berhenti sejenak.
Ini namanya “Self Respect” – Menghargai tubuh sendiri lebih penting daripada jadi ‘pegawai teladan’ yang akhirnya tumbang.
Karena pada akhirnya, kita bukan robot. Kita manusia. Kepala pun butuh waktu buat rehat. Migrain bukan kelemahan. Itu sinyal bahwa tubuh kita butuh perhatian lebih.
Jadi kalau kamu lihat teman tiba-tiba memegang kepala dan nyari ruangan gelap, jangan tanya, “Lagi galau ya?”
Tanya aja pelan, “Mau gue ambilin air putih?”
Kadang, empati lebih mujarab daripada seribu saran ngawur.
Dan siapa tahu… besok giliran kamu yang nyari ruang gelap dan suara hujan.
Siap-siap ya.
Karena ini namanya “Life Surprise” – Migrain bisa datang kapan saja, bahkan di saat kamu lagi nonton konser BTS.”
Kalau kamu pernah ngerasain hal kayak Andra, semoga tulisan ini bisa bikin kamu senyum dikit di tengah denyutan yang nyebelin itu. Tetap waras, tetap peka, dan tetap istirahat kalau badan minta jeda.