Di sebuah kost sempit pinggir jalan yang temboknya setipis iman saat diskon Shopee, hiduplah seorang mahasiswa bernama Dito. Anak rantau. Dompet tipis. Tapi kepala… berat. Migrain kambuhan, katanya.
Setiap pagi, Dito punya ritual yang tak tergoyahkan: buka mata, cek saldo, lanjut meratapi hidup. Dan setiap kali migrainnya kumat, pasti kalimat itu keluar:
“Kayaknya gara-gara belum sarapan deh…”
Temennya, Roni, anak gizi yang sok bijak, langsung nimbrung, “Sarapan itu penting, Bro! Tapi bukan berarti lo asal-asalan. Lo kira mie instan bisa ngusir migrain?”
Dito melotot sambil ngunyah gorengan sisa kemarin. “Lah terus, apa dong sarapan yang cocok buat kepala cenat-cenut kayak gue?”
Ini namanya “Finding The Trigger” – Cari akar masalah sebelum nuduh gorengan.
Dari sinilah petualangan kuliner Dito dimulai. Misi: menemukan sarapan yang nggak bikin kepala meledak kayak balon tusuk jarum.
Hari pertama, dia coba kopi hitam plus roti tawar. Klasik. Elegan. Tapi dua jam kemudian, Dito terkapar di kasur sambil nutup mata pakai bantal.
“Astagaaa… migrain gue kambuh. Salah kopi apa salah nasib, ya?”
Ternyata, bagi penderita migrain, kafein bisa jadi pedang bermata dua. Dikit bisa bantu. Kebanyakan? Boom, ledakan di kepala.
Ini namanya “Know Your Enemy” – Yang manis nggak selalu baik. Yang pahit belum tentu bikin kuat.
Hari kedua, dia coba sarapan oatmeal plus pisang. Katanya sehat. Instagramable. Cocok buat calon mertua. Hasilnya? Aman! Nggak ada migrain. Bahkan Dito semangat ngerjain tugas sambil dengerin lagu galau.
“Wah, ini sih bisa jadi menu andalan!”

Pisang ternyata mengandung magnesium, teman akrab para penderita migrain. Oatmeal? Stabilin gula darah biar nggak anjlok kayak harga saham cinta bertepuk sebelah tangan.
Ini namanya “Fuel The Brain Right” – Kasih bahan bakar yang pas, bukan asal kenyang.
Hari ketiga, Dito kepincut nasi uduk depan kost. Wangi semerbak. Telur dadar tebal. Sambal nendang. Tapi ya gitu… 2 jam kemudian, dia ngetik chat ke Roni:
“Bro… gua pingsan setengah jiwa. Pala cenat-cenut.”
Nasi uduk? Enak sih. Tapi buat penderita migrain, makanan berminyak, tinggi lemak, dan penuh MSG kadang kayak musuh dalam selimut.
Ini namanya “Silent Sabotage” – Enaknya sesaat, deritanya seharian.
Hari keempat, Dito belajar dari kesalahan. Sarapan roti gandum isi alpukat. Simple. No drama. Dan hasilnya? Bikin dia ngga cuma selamat dari migrain, tapi juga mulai dilirik mbak-mbak yoga di taman.
“Makanan sehat bikin aura sehat,” katanya sok bijak.
Alpukat punya lemak sehat. Gandum utuh bantu jaga gula darah tetap stabil. Kombinasi yang tidak hanya menyelamatkan kepala, tapi juga potensi percintaan.
Ini namanya “Double Win Strategy” – Sekali sarapan, dua target tercapai.
Hari kelima, Dito sempat kepikiran skip sarapan. Katanya intermittent fasting lagi hits. Tapi baru juga jam 9 pagi, kepala mulai nyut-nyutan.
“Yaelah… ternyata bukan tren yang cocok buat semua orang ya?”
Ini namanya “Don’t Follow Trends Blindly” – Kalau belum tentu cocok, jangan dipaksain.
Akhirnya, Dito menyusun daftar sarapan anti-migrain versinya sendiri:
- Oatmeal + pisang
- Smoothie alpukat + greek yogurt
- Telur rebus + roti gandum + tomat
- Bubur ayam tanpa kerupuk dan sambal (iya, ini berat…)
- Nasi merah + tahu tempe kukus + sayur bening
Dia lem bikin tabel di dinding kamar. Judulnya: “SARAPAN PENYELAMAT OTAK”.
Suatu hari, Roni masuk kamar dan baca catatan itu. Dia tepuk pundak Dito, sambil nyeletuk,
“Bro, akhirnya lo lulus juga jadi sarjana sarapan sehat.”
Dito senyum, kepala enteng. “Yoi, lebih enteng dari dompet gue.”
Ini namanya “Small Wins Matter” – Nggak semua pahlawan pake jubah. Kadang dia cuma orang yang tahu sarapan apa yang nggak bikin pusing.
Dan sejak saat itu, hidup Dito berubah. Lebih fokus, lebih produktif, dan… lebih sering dipinjemin tugas sama anak-anak kelas.
Jadi, kalau lo juga sering migrain dan masih mikir sarapan itu soal kenyang doang, coba pikir ulang. Kadang solusi nggak harus serumit seminar kesehatan. Kadang, cukup dari isi piring pagi lo.
Karena sarapan bukan cuma soal isi perut, tapi juga ketenangan kepala.
Dan mungkin, ketenangan hati juga, kalau makannya bareng orang yang pas.
Mau mulai dari mana?
Coba dari satu pisang dan semangkuk oatmeal.
Kadang yang sederhana, justru yang paling nyelametin.
Ini namanya “Start Simple, Stay Clear” – Sarapan yang baik bisa jadi awal hari yang hebat.