Di sebuah kantor yang penuh deadline dan minim kasih sayang, hiduplah seorang karyawan bernama Didi. Migrain adalah teman setianya sejak lama. Tiap kali atasan mulai ngomong “rapat jam 8 malam, ya,” otaknya langsung ngadain konser petasan di dalam kepala.
Sampai akhirnya, suatu hari dia duduk di pantry dengan mata merah, tangan pegang gelas kopi, dan napas ala aktor sinetron yang habis ketahuan selingkuh. Teman kantornya, Rina, datang dengan gaya santai.
“Lo migrain lagi, Di?”
Didi cuma bisa angguk, pelan, dramatis. Mirip aktor FTV yang ditinggal tunangan pas hari lamaran.
Rina langsung nunjuk kursi panjang di pojokan, “Cobain rebahan di situ deh. Tapi miring ke kiri. Gue pernah baca, katanya bisa ngurangin tekanan pembuluh darah.”
Ini namanya “Try Before You Die” – Coba dulu sebelum nyerah.
Didi pun nurut. Miring ke kiri, nutup mata, dan mencoba ikhlas. Beberapa menit kemudian… kepala masih cenut-cenut. Tapi kali ini, lebih teratur cenut-cenutnya.
“Lumayan,” gumamnya.
Rina pun nambahin, “Atau lo coba posisi kaki lebih tinggi dari kepala. Gue pernah liat di TikTok, katanya aliran darah jadi lebih lancar.”
Didi ambil bangku kecil, ganjel kakinya. Kali ini dia mirip pasien pijat refleksi yang salah masuk studio yoga.
Ini namanya “Upgrade Position” – Kadang kita cuma perlu sedikit ngubah posisi buat hidup lebih baik.
Setelah lima menit, mukanya berubah. Dari wajah penuh duka jadi wajah orang yang akhirnya tahu kenapa pacarnya berubah dingin: ternyata pacarnya pindah ke Korea ikut pelatihan idol.

“Eh… beneran berkurang dikit, Rin,” kata Didi.
Rina pun angkat jempol. “Makanya, kadang obat itu bukan cuma yang lo telan. Tapi juga posisi lo dalam menghadapi hidup.”
Ini namanya “Perspective Healing” – Kadang yang perlu diubah bukan masalahnya, tapi cara kita menanggapinya.
Tiba-tiba datang si bos. “Didi, udah baikan? Ayo ke ruang rapat. Kita bahas laporan kuartal.”
Dan migrainnya balik, plus bonus mual.
Ini namanya “Trigger Factor” – Penyebab utama penyakit bukan cuma fisik, tapi juga lingkungan.
Akhirnya Didi pun mengatur strategi. Tiap merasa migrain mulai datang, dia langsung:
- Rebahan miring ke kiri.
- Ganjel kaki pakai bangku kecil.
- Matikan lampu, tutup mata.
- Jauhkan HP (kecuali ada notifikasi transfer gaji).
- Tarik napas, hembuskan, lalu bayangkan dia sedang liburan di Bali… atau minimal cuti sehari.
Setelah rutin melakukan itu selama seminggu, Didi menyadari satu hal:
“Migrain gue bukan sepenuhnya karena sakit, tapi karena gue maksa otak kerja padahal hati udah bilang capek.”
Ini namanya “Listen to Your Body” – Tubuh tuh selalu ngasih kode. Kita aja yang suka pura-pura tuli.
Rina kemudian memberikan saran pamungkas, “Lo tahu posisi terbaik buat ngilangin migrain?”
Didi balik nanya, “Apa?”
Rina jawab sambil senyum, “Posisi resign dari tempat kerja yang bikin lo sakit kepala tiap hari!”
Didi diem. Lama. Lalu perlahan-lahan senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
Ini namanya “Positioning Your Peace” – Menentukan posisi hidup lo bukan soal gaya tidur, tapi tempat di mana lo merasa tenang.
Akhir cerita, Didi emang belum resign. Tapi sekarang, tiap migrain datang, dia gak lagi buru-buru telan obat atau panik. Dia tarik napas, ganti posisi, cari tempat yang gelap dan sepi, terus mulai refleksi:
“Ini kepala gue yang sakit, atau hati gue yang udah lelah pura-pura kuat?”
Dan ternyata, jawaban itu lebih menyembuhkan dari sekedar paracetamol atau kopi sachet dari pantry.
Jadi, apa posisi terbaik untuk menghilangkan migrain?
Bukan cuma soal miring ke kiri, bukan cuma ganjel kaki. Tapi posisi hidup yang gak terus-terusan bikin lo ngerasa ditekan dari semua arah.
Kadang yang kita butuh bukan cuma bantal empuk, tapi juga keputusan tegas buat menjauh dari hal-hal yang bikin kepala berat.
Dan mungkin, cuma mungkin… posisi terbaik itu adalah menemukan kembali dirimu yang hilang di tengah riuhnya rutinitas.
Karena migrain bukan cuma masalah medis. Tapi kadang, itu adalah sinyal tubuh yang bilang: “Tolong istirahat. Dunia gak bakal hancur kalau lo berhenti sebentar.”