Di sebuah kantor yang tidak terlalu besar tapi penuh tekanan, seorang karyawan bernama Tino mendadak meletakkan kepalanya di meja. Bukan karena ngantuk, bukan juga karena bosen dengerin presentasi bos. Tapi karena kepalanya terasa seperti ada marching band yang lagi gladi resik di otaknya.

“Migrain, bro,” gumam Tino, pelan tapi menyiksa.

Rekan sekantornya langsung panik.
“Minum obat dong!”
“Pijet pelipisnya!”
“Udud aja, ntar juga ilang…”
Yang terakhir ini jelas saran dari makhluk anti-sains.

Tapi justru dari kejadian ini kita belajar: Orang-orang lebih jago kasih saran ketimbang ngertiin masalah sebenarnya.

Tino akhirnya berdiri pelan, jalan ke ruang istirahat, dan… matiin lampu. Tiduran. Diam.

Ini namanya “Back to Basic” — Kadang tubuh cuma minta istirahat, bukan drama sinetron atau obat mahal.

Langkah 1: Menyingkir dari Keramaian

Migrain bukan sekadar sakit kepala. Ia lebih kayak bos toxic yang datang tanpa undangan, bikin hidup lo jungkir balik tanpa alasan yang jelas.

Jadi pertolongan pertama paling ampuh? Minggir dari keramaian.
Cari ruangan sepi, matikan lampu, tutup mata, dan jangan buka Instagram. Migrain nggak bisa diusir pakai filter cantik.

Ini namanya “Silent Therapy” — Kadang yang lo butuh cuma ketenangan, bukan perhatian.

Langkah 2: Kompres Dingin

Masih di ruang istirahat, Tino ambil handuk kecil dari laci, celup ke air dingin, dan tempelin ke dahi. Dalam dunia migrain, ini bukan sekadar ritual, tapi penyelamat jiwa.

Kompres dingin bisa bantu menyempitkan pembuluh darah dan menenangkan saraf yang lagi pesta pora di kepala lo.

Ini namanya “Cooling the Storm” — Kalau otak lo panas, jangan dilawan pake emosi. Dinginin aja dulu.

Langkah 3: Minum Air Putih

Sesepele ini, tapi sering banget dilupain.
Migrain kadang cuma kode keras dari tubuh lo yang udah kehausan tapi lo sibuk meeting, chatting, bahkan julid di grup WA.

Jadi sebelum lo salahkan alam semesta, coba minum air putih segelas. Jangan kopi. Jangan bubble tea. Jangan juga minuman cinta berasa manis tapi bikin kecewa.

Ini namanya “Hydration is Salvation” — Minum air sebelum lo minum amarah.

Langkah 4: Pijat Ringan di Area Pelipis dan Leher

Tino, yang udah agak mendingan, mulai mijat sendiri pelipisnya. Tapi pelan. Nggak usah gaya-gaya sampe urut refleksi kayak di mall.

Sentuhan ringan di titik saraf bisa membantu relaksasi. Tapi inget ya: ringan, bukan brutal. Lo migrain, bukan lagi ngajak duel.

Ini namanya “Gentle Rescue” — Kadang yang lo butuh bukan tenaga, tapi kelembutan.

Langkah 5: Tarik Napas Dalam dan Rileks

Migrain punya banyak pemicu. Salah satunya: stres. Dan anehnya, begitu kepala lo sakit, lo makin stres. Muter-muter kayak drama tanpa ending.

Maka tarik napas dalam… tahan sebentar… buang pelan…

Ulangi lima kali. Jangan khawatir soal hidup, cicilan, atau mantan. Fokus ke napas dulu. Migrain bukan musuh. Dia cuma alarm bahwa lo butuh jeda.

Ini namanya “Breathe to Reset” — Kalau dunia terasa berat, mungkin karena lo lupa napas dengan benar.

Langkah Bonus: Minum Obat Bila Perlu

Kalau semua cara alami nggak ngaruh dan lo udah mau nyanyi “Head Shoulders Knees and Pain”, saatnya pakai plan B.

Obat pereda migrain seperti paracetamol, ibuprofen, atau obat khusus migrain (triptan, misalnya) bisa jadi senjata pamungkas. Tapi inget: baca aturan pakainya. Jangan main telen kayak nelen cinta tanpa komitmen.

Ini namanya “Medication is Delegation” — Serahkan tugas pada yang ahli, jangan semua ditanggung sendiri.

Epilog: Migrain Bukan Kutukan, Tapi Pesan

Setelah dua jam istirahat, Tino bangun. Mukanya lebih tenang, nggak kayak tadi yang mirip zombie telat makan.

Dia balik ke meja, bawa gelas air putih, dan ngetik pelan-pelan.
Rekannya nanya, “Udah mendingan?”
Tino cuma senyum. “Sudah. Cuma tadi tubuh minta bicara, dan akhirnya gue dengerin.”

Ini namanya “Understanding the Signal” — Tubuh nggak pernah berkhianat. Kita aja yang sering pura-pura tuli.

Jadi, buat lo yang sering kena migrain, jangan buru-buru panik. Kadang, pertolongan pertama terbaik itu bukan di apotek… tapi di diri sendiri.

Siapa tahu, migrain lo itu cuma kode dari tubuh yang bilang:
“Bro… santai dulu lah, hidup nggak harus buru-buru.”

Apakah kamu juga sering mendadak diserang migrain di tengah kerjaan atau keributan hidup?

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *