Di suatu pagi yang cerah tapi kepala cenat-cenut, Bu Ratna membuka mata dengan ekspresi kayak abis dikejar cicilan lima bulan. Tangannya refleks megang pelipis kiri. Bukan karena ada yang bisikin hutang, tapi karena migrain yang kayaknya betah banget numpang hidup.
Ini hari ketiga berturut-turut Bu Ratna ngadepin “tamu tak diundang” bernama migrain.
Obat udah diminum. Kopi udah dikurangin. Tidur? Udah dicoba nyenyak, meski tetap kebangun gara-gara suaminya ngorok kayak mesin pemotong kayu.
Tapi migrain ini keras kepala.
Lebih keras dari kepala anaknya yang udah tiga kali ikut try out tapi masih ngisi LJK kayak tebak-tebakan.
Ini namanya “Persistent Enemy” – Musuh lama yang susah move on!
Bu Ratna pun akhirnya curhat ke temannya, Bu Lia, yang terkenal sebagai “dokter Google bersertifikat netizen”.
“Lo tuh mungkin mikirnya cuma karena stres. Tapi lo lupa satu hal paling penting!”
“Apa tuh?” tanya Bu Ratna dengan pelipis masih berdenyut.
“Lo lupa… lo masih suka skip makan!”
Bu Ratna cuma bisa garuk-garuk kepala.
Iya juga sih, dia sering banget nunda makan, soalnya lagi diet “ala-ala selebgram”. Yang penting keliatan langsing dulu, pingsan urusan nanti.
Ini namanya “Diet Disaster” – Gaya hidup sok sehat yang malah nyiksa kepala!

Ternyata, migrain nggak cuma dipicu kurang tidur atau stres kerjaan. Banyak hal sepele yang sebenarnya punya efek besar, kayak:
- Skip makan atau makan nggak teratur
- Kurang minum air putih
- Terlalu sering minum kopi atau teh manis
- Bau-bauan tajam (parfum tetangga sebelah yang kayak aromaterapi gagal)
- Lampu terlalu terang, layar HP keterangan
- Kurang olahraga
- Dan satu lagi… mantan yang suka nyolek-nyolek masa lalu (ini lebih ke migrain hati sih)
Ini namanya “Invisible Triggers” – Pemicu halus tapi nyebelin!
Di satu sisi kota, Pak Darman—pegawai kantor pajak yang nyaris pensiun—juga mengalami hal serupa.
Migrain datangnya pas jam kerja.
Nggak pagi, nggak sore. Pas banget pas deadline.
Dokter udah bilang:
“Pak, itu migrainnya bukan karena faktor usia doang. Tapi karena Bapak kerja depan layar 9 jam sehari dan nggak pernah istirahat lima menit buat lihat daun ijo.”
Tapi Pak Darman ngeyel,
“Lho dok, monitor kantor saya warnanya ijo semua! Angka-angka pajak ijo semua, kayak harapan hidup di tanggal tua!”
Dokternya cuma bisa tepuk jidat.
Ini namanya “Digital Trap” – Teknologi yang bikin kepala ngebul!
Migrain yang nggak kunjung sembuh sering kali bukan karena kurang obat, tapi karena kita nggak mau ngulik akar masalahnya.
Kepala bukan tempat sampah, yang bisa tampung semua tekanan tanpa meledak.
Kadang tubuh udah kasih sinyal, tapi kita sibuk cuekin.
Kayak gebetan yang udah chat “lagi apa?” tapi dibaca doang.
Ini namanya “Ignoring the Alarm” – Sinyal bahaya yang dikira angin lalu.
Ada juga orang yang tiap migrain langsung nyari obat generik, terus bangga bilang:
“Gue udah biasa begini. Paling nanti ilang sendiri.”
Padahal, makin sering dibiarin, makin tinggi risiko migrain kronis.
Itu tuh, yang bisa muncul 15 hari dalam sebulan, dan minimal 8 hari di antaranya udah kayak pesta kembang api di kepala.
Ini namanya “Habitual Suffering” – Terlalu biasa hidup dalam derita!
Akhirnya Bu Ratna mulai sadar.
Migrainnya bukan karena semata faktor luar. Tapi gaya hidupnya yang kurang kasih sayang buat diri sendiri.
Dia pun mulai rutin sarapan, minum air putih, dan kasih waktu buat duduk di taman sebentar tanpa pegang HP.
Di minggu ketiga, migrainnya mulai reda.
Dia pun bilang ke suaminya:
“Pak, aku kayaknya lebih butuh pelukan daripada parasetamol.”
Suaminya bengong.
“Tapi aku bukan dokter, Ma…”
“Iya, tapi pelukanmu lebih ampuh daripada resep dokter.”
Anak-anak mereka yang denger langsung mual-mual.
Ini namanya “Holistic Healing” – Kadang penyembuhan nggak butuh obat, tapi butuh perhatian.
Jadi, kalau migrain kamu nggak kunjung sembuh juga, jangan buru-buru nambah dosis obat.
Coba cek ulang gaya hidupmu:
Apakah kamu udah cukup istirahat?
Udah cukup makan bergizi?
Udah kurangi drama di media sosial?
Karena kadang, yang bikin kepala kita berat bukan cuma hormon dan pembuluh darah…
Tapi beban hidup yang kita pelihara sendiri.
Ini namanya “Emotional Migraine” – Migrain yang nggak sembuh karena hatimu juga belum sembuh.
Jadi, apa penyebab migrain yang nggak kunjung sembuh?
Jawabannya bisa jadi bukan di luar tubuh, tapi dalam diri sendiri.
Dan itu, teman-teman…
Yang paling susah diobati.