Suatu pagi yang tampaknya damai di sebuah kosan pinggir kota, hidup seorang pemuda tangguh bernama Joko. Tangkas, pekerja keras, dan selalu jadi tempat curhat teman-teman karena katanya wajahnya kayak “punya solusi”. Tapi pagi itu, si Joko bukan terlihat kayak pahlawan kesiangan. Dia malah terkapar di kasur, tangan megang kepala sebelah kanan, ekspresinya kayak habis ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.
“Kenapa, bro?” tanya Anton, teman sekamarnya yang lagi ngaduk mie sambil nonton video kucing.
“Migrain… Sebelah kanan. Dari tadi subuh rasanya kayak dipukul sama nasib,” jawab Joko dengan suara lirih penuh penderitaan.
Ini namanya “Serangan Sepihak” – Ketika rasa sakit cuma nyerang di satu sisi, tapi efeknya ke seluruh hidup.
Joko yang biasanya rajin, hari itu bolos kerja. Bukan karena malas, tapi karena setiap gerakan kecil bikin nyut-nyutan. Cahaya terang bikin meringis. Suara motor lewat aja rasanya kayak konser metal di otak.
Anton, yang biasanya cuek bebek, hari itu mendadak jadi dokter dadakan.
“Minum paracetamol, bro,” sarannya sambil nyodorin obat dari laci yang udah expired dua bulan.
“Udah. Gak ngaruh. Kayaknya ini migrain kelas berat, Ton. Kayak dosen killer pas ngasih nilai.”
Ini namanya “Tumbang karena Triggers” – Kadang migrain itu muncul karena kurang tidur, stres, telat makan, atau terlalu banyak mikirin masa depan yang belum jelas.
Akhirnya, mereka berdua pun mulai misi penyelamatan: Mencari obat sakit kepala migrain sebelah kanan yang benar-benar manjur.
Langkah pertama: Ke warung.
Joko dibonceng Anton sambil pake kacamata hitam jam 10 pagi, bukan gaya-gayaan, tapi biar gak silau. Di warung, mereka nemuin berbagai merk obat dari yang harganya kayak jajanan sampai yang bisa bikin dompet sesak.
“Coba ini, bro. Ibuprofen,” kata Anton yang tiba-tiba mengutip hasil pencarian Google.
“Kalau gak mempan juga, kita coba asam mefenamat. Kalau dua-duanya gagal, kita serahkan pada Tuhan.”
Ini namanya “Trial and Error” – Nyoba berbagai opsi sampai nemu yang cocok.
Joko akhirnya minum ibuprofen, tarik napas dalam-dalam, terus tidur. Dua jam kemudian, dia bangun… lebih segar. Masih ada sisa denyut di kepala, tapi udah gak kayak digebukin semesta.

Anton senyum puas.
“Bro, berhasil?”
“Lumayan. Kayaknya efek placebo dan cinta dari temen.”
Ini namanya “Healing Duo” – Kombinasi antara obat dan support system.
Tapi Joko tahu, ini bukan solusi jangka panjang. Dia mulai nyari tahu lebih dalam: kenapa migrain ini datang dan bagaimana mencegahnya?
Dia nemu tiga hal penting:
- Hindari pemicunya.
Buat Joko, ternyata ngopi pas perut kosong + stres karena kerjaan yang gak kelar-kelar itu jadi duo maut. Setiap kali dua hal itu muncul, pasti migrain datang kayak mantan yang belum move on. - Tidur teratur.
Bukan cuma tidur cukup, tapi juga tidur di jam yang sama. Karena ternyata, otak punya jadwalnya sendiri, dan kalau sering dilewatin, dia ngambek. - Jangan sepelein sinyal tubuh.
Tiap kali mulai ngerasa “kayaknya bakal kambuh”, langsung tarik diri sebentar, minum air putih, tutup mata, tarik napas. Kadang itu cukup buat cegah badai datang.
Ini namanya “Preventive Power” – Mencegah lebih elegan daripada mengobati.
Dan satu hal lagi yang Joko pelajari: obat-obat medis kayak ibuprofen, parasetamol, aspirin, sampai triptan itu bisa efektif, tapi gak boleh dikonsumsi asal-asalan. Harus sesuai dosis, dan kalau sering kambuh, lebih baik periksa ke dokter.
Karena apa?
Karena bisa aja itu bukan migrain biasa. Bisa karena masalah saraf, tekanan darah, bahkan infeksi. Jangan-jangan, si sakit kepala itu cuma “cover story” dari masalah yang lebih besar.
Ini namanya “Dig Deeper” – Jangan cuma ngobatin gejala, tapi cari akar masalahnya.
Seminggu kemudian, Joko udah bisa ngantor lagi. Bawaan ransel, air putih dua botol, cemilan sehat, dan… satu aplikasi meditasi.
Pas bosnya mulai bawel dan kerjaan numpuk, Joko gak langsung panik. Dia tarik napas, senyum, terus bilang:
“Tenang. Ini bukan deadline, ini ujian sabar dari Tuhan.”
Anton yang lihat dari jauh cuma bisa tepuk tangan dalam hati.
“Ini namanya… Joko versi upgrade.”
Dan buat kamu yang juga sering kena migrain sebelah kanan: obat memang penting, tapi lebih penting lagi belajar ngerti bahasa tubuh sendiri. Karena kadang, migrain itu bukan sekadar sakit kepala. Dia kode keras kalau hidup kamu butuh istirahat.
Ini namanya “Mendengarkan Tubuh” – Ilmu yang gak diajarin di sekolah, tapi menentukan kualitas hidup kita setiap hari.
Jadi, kalau kamu tanya: Apa obat sakit kepala migrain sebelah kanan?
Jawabannya bukan cuma di apotek. Tapi juga di pola hidup, manajemen stres, dan kepekaan kamu pada sinyal tubuh.
Dan terakhir, jangan lupa…
Kalau udah terlalu sering kambuh,
Ini namanya: “Saatnya ke dokter, bro!”
Mendingan dicek, daripada nebak-nebak.
Apa kamu juga sering ngalamin migrain sebelah kanan?