Di suatu pagi yang biasa-biasa aja, kepala gue tiba-tiba berasa kayak dihantam godam Thor. Jedug. Jedug. Jedug. Rasanya kayak ada pesta kembang api yang meledak di dalam tengkorak, tapi tanpa keindahan visualnya—cuma siksaan. Yes, ladies and gentlemen, gue lagi kena migrain.
Gue pun nyari pertolongan. Bukan ke dokter. Tapi ke grup WhatsApp keluarga.
“Mbak, pake paracetamol aja!”
“Jangan, ibuprofen lebih manjur!”
“Diclofenac dong, kayak Papa waktu gout!”
“Aku biasanya minum kopi pahit. Hilang langsung!”
Ini bukan diskusi pengobatan. Ini lebih mirip debat calon presiden, tapi topiknya obat sakit kepala. Gue cuma bisa meringis sambil mikir: “Migrain ini nyiksa, tapi dengerin saran mereka lebih nyiksa lagi.”
Akhirnya gue ke apotek. Si mbak apoteker yang udah kayak ‘oracle’ di dunia modern, nanya sambil senyum ramah, “Migrain ya, Kak? Maunya yang cepat redanya, atau yang aman buat lambung?”
Pertanyaan itu bikin gue sadar, ternyata nyari obat buat migrain itu nggak kayak milih ciki di minimarket. Ini serius. Ini hidup dan mati antara bisa kerja atau tergeletak kayak kucing kesurupan di kamar.
Pertama: Paracetamol.
Obat sejuta umat. Murah, gampang dicari, dan kayaknya semua orang pernah punya sebutir dua di tas. Tapi buat migrain yang udah naik level kayak boss terakhir di video game, paracetamol kadang cuma bisa jadi cheerleader. Niatnya baik, tapi nggak cukup kuat buat menahan serangan.
Kedua: Ibuprofen.
Nah ini, katanya sih lebih jos. Anti-inflamasi non-steroid yang bisa bikin urat yang nyut-nyutan jadi lebih kalem. Tapi buat orang yang lambungnya lemah kayak hati pas abis diputusin, ibuprofen bisa jadi bumerang. Sakit kepala ilang, tapi ganti mules seharian.
Ini namanya “Trade Off” – Lo pengen sembuh dari satu hal, tapi dapet bonus penderitaan dari hal lain. Hidup emang suka nggak adil.

Ketiga: Naproxen.
Dia bukan selebriti kayak ibuprofen, tapi konon lebih tahan lama efeknya. Buat migrain yang doyan kambuh lagi kayak mantan yang suka chat “Hai” jam 1 pagi, naproxen bisa jadi bodyguard pribadi. Tapi ya itu, harus ada resep dokter, karena ini udah level menengah ke atas.
Keempat: Obat khusus migrain kayak sumatriptan.
Ini bukan sembarang obat. Ini udah kayak sniper khusus buat migrain. Bukan cuma redain nyeri, tapi ngeblok jalur saraf yang bikin otak lo nari poco-poco. Tapi sayangnya, dia nggak bisa dibeli bebas. Harus konsultasi dokter. Dan kadang, harganya juga bisa bikin lo mikir, “Migrain gue kayaknya nggak separah itu deh…”
Ini namanya “Access Control” – Yang paling manjur, justru paling susah didapet. Sama kayak cinta tulus, bro. Nggak semua orang bisa nemu.
Lalu muncullah si Alternatif Ajaib: Kafein.
Katanya minum kopi bisa bantu migrain. Dan memang bener, sebagian orang merasa lega setelah nyeruput espresso. Tapi buat yang sensitif, kafein malah bisa bikin kepala makin cenat-cenut. Ini seperti ngajak mantan balikan—kadang nyaman, kadang malah nyesel.
Dan terakhir: Tidur.
Obat paling underrated. Gratis. Aman. Tapi ya itu, susah banget direalisasikan kalau migrainnya bikin kepala lo cenat-cenut tiap denger suara jam berdetak. Bahkan suara nafas sendiri pun bisa terasa kayak drum band.
Gue akhirnya duduk termenung, dengan tiga bungkus obat di tangan. Ibuprofen, paracetamol, dan teh manis anget. Bukan buat diseduh bareng, ya. Itu bukan infus herbal, itu namanya bunuh diri pelan-pelan.
Gue pun minum ibuprofen, karena waktu itu rasanya lambung masih dalam kondisi bersahabat. Setengah jam kemudian, rasa nyut-nyutan itu mulai menipis. Dunia jadi agak terang. Gue pun bisa ngelanjutin kerjaan yang tadi tertunda—nonton video kucing di TikTok.
Nggak ada satu obat yang cocok buat semua orang. Buat sebagian, paracetamol cukup. Buat yang lain, harus naik kelas ke ibuprofen, naproxen, atau bahkan sumatriptan. Kuncinya adalah kenali tubuh lo sendiri. Jangan asal comot obat kayak milih jodoh di aplikasi dating.
Dan kalau migrain lo dateng rutin kayak cicilan KPR, mending lo ke dokter. Bisa jadi itu bukan sekadar migrain. Bisa aja itu alarm tubuh yang udah teriak-teriak, “Tolong, bro! Ganti gaya hidup!”
Ini namanya “Listen to your body” – Kadang tubuh udah kasih sinyal, tapi kita terlalu sibuk buat dengerin.
Jadi, apa obat pereda nyeri terbaik untuk migrain?
Jawabannya tergantung lo siapa, lo punya apa, dan tubuh lo maunya apa. Karena pada akhirnya, yang terbaik bukan yang paling mahal, tapi yang paling cocok dan bikin lo bisa bilang: “Akhirnya, hidup gue nggak kayak ditabok petir lagi.”
Dan kalau semua itu gagal? Ya udah. Rebahan, pake kompres dingin, dan pasrah kayak nasi goreng sisa. Kadang yang lo butuhin cuma waktu… dan receh buat beli roti sobek di warung sebelah.
Kalau lo pernah ngalamin migrain dan pengen sharing obat andalan lo, atau bahkan ritual aneh kayak ngunyah daun mint sambil dengerin lagu keroncong, sini, cerita yuk. Siapa tahu lo nemuin ‘soulmate’ migrain-lover lain di dunia ini.
Mau coba gaya hidup baru biar bebas migrain? Atau masih pengen adu kuat sama sumatriptan? Pilihan di tangan lo, sob.