Di sebuah rumah mungil nan penuh kenangan, tinggal seorang pria paruh baya bernama Pak Rahmat. Hobinya cuma satu: ngelap dinding yang selalu basah. Tiap pagi, sebelum kopi diseruput dan doa dilantunkan, tangannya udah sigap megang lap.

Bukan karena cintanya pada tembok, tapi karena satu hal: lembap.

Iya, ruangan di rumahnya tuh lembap banget. Sampai-sampai cicak pun kadang terpeleset waktu lagi nempel di dinding.

Ini namanya “Natural Problem” – Masalah dari alam, bukan dari mantan.

Suatu hari, Pak Rahmat ngomel-ngomel ke kipas anginnya.
“Kau ini muter doang tapi gak pernah bikin dinding ini kering!”

Anaknya, Dito, mahasiswa semester akhir jurusan teknik lingkungan, cuma geleng-geleng.
“Pak, itu kipas, bukan pawang hujan. Mau ruangan gak lembap? Harus ngerti dulu penyebabnya.”

Ini namanya “Root Cause Analysis” – Jangan ngeluh kalau belum nyari akar masalah.

Dito lalu ngeluarin papan tulis mini, bekas zaman dia les Matematika. Dia tulis:

Penyebab Ruangan Lembap:

  1. Kurangnya sirkulasi udara
  2. Ventilasi minim
  3. Banyak jemuran dalam ruangan
  4. AC nyala tapi gak ada exhaust fan
  5. Cuaca mendung plus rumah nempel ke tebing

Pak Rahmat baca daftar itu kayak baca novel misteri.
“Ohhh jadi ini kenapa jamur suka nongkrong di lemari ya?”

Dito langsung semangat. Dia bilang,
“Yuk Pak, kita bikin ruangan ini gak terlalu lembap. Gampang kok. Pertama…”

  1. Buka Jendela, Jangan Cuma Hati

Tiap pagi, jendela dibuka selebar-lebarnya. Biar angin masuk, bawa kabar baik sekaligus ngusir kelembapan.
Ini namanya “Let it Flow” – Biarkan udara segar datang dan pergi sesuka hati.

  1. Pasang Exhaust Fan

Dito pasang exhaust fan di dapur dan kamar mandi. “Ini kayak ventilasi aktif, Pak. Dia nyedot kelembapan kayak mantan nyedot energi kita.”

Pak Rahmat langsung takjub. “Kayak sulap ya. Dinding jadi cepet kering.”

Ini namanya “Proper Tools for the Job” – Pakai alat yang sesuai dengan masalah.

  1. Kurangi Jemur Baju di Dalam Rumah

Iya, ini PR besar. Karena tiap hujan datang, Pak Rahmat jadi raja jemuran indoor. Tapi sekarang, mereka beli rak jemuran gantung yang bisa dilipat dan digantung di luar.

“Kalau gak bisa kering total, setidaknya baunya gak kayak bangkai bantal,” kata Dito sambil ngikik.

Ini namanya “Compromise” – Cari jalan tengah biar semua tetap waras.

  1. Pakai Karbol Wangi dan Arang Aktif

Pak Rahmat juga mulai pakai karbol yang bikin lantai keset dan wangi. Di pojok ruangan, ditaruh mangkok kecil berisi arang aktif.

“Ini buat nyerap kelembapan. Sama kayak kamu nyerap WiFi dari tetangga,” canda Pak Rahmat.

Ini namanya “Small Hacks, Big Impact” – Cara sederhana, hasilnya luar biasa.

  1. Tanaman Anti Lembap

Dito bawa pulang tanaman lidah mertua dan peace lily. “Ini bukan cuma cantik, tapi juga bisa nyerap kelembapan dan bersihin udara, Pak.”

Pak Rahmat langsung kasih nama tanamannya: Bu Erna dan Bu Susi.

“Biar akrab. Masa kita tinggal bareng tapi gak kenalan?”

Ini namanya “Green Allies” – Teman hijau yang bisa diandalkan.

Seminggu kemudian, ruangan Pak Rahmat berubah drastis. Dinding gak lagi kayak badan atlet sehabis lari – basah dan lengket. Jamur mulai putus asa. Udara pun terasa lebih ringan, lebih nyaman.

Suatu pagi, Pak Rahmat duduk di sofa sambil ngopi dan ngomong ke Dito:
“Dulu Bapak pikir kelembapan itu cuma soal cuaca. Ternyata, ini juga soal kebiasaan.”

Dito senyum, “Iya Pak, kadang yang bikin suasana sumpek itu bukan hujan, tapi kita sendiri yang gak mau buka jendela.”

Ini namanya “Mind Opening Moment” – Saat lo sadar, solusi tuh kadang sesederhana narik tirai.

Hari itu, Pak Rahmat nulis status di grup WA komplek:

“Cara bikin rumah gak lembap: buka jendela, pasang exhaust fan, jangan jemur baju dalam rumah, kasih arang aktif, pel tiap hari, dan rawat tanaman. Jamur minggat, nyawa selamat.”

Warganya langsung heboh. Bu RT japri, “Pak Rahmat, kita undang jadi pembicara di acara Posyandu ya?”

Pak Rahmat ngelirik Dito.
“Lah, baru juga dinding kering, udah disuruh ceramah.”

Ini namanya “Level Up” – Dari korban kelembapan jadi duta anti jamur.

Jadi, buat kamu yang ngerasa rumah kayak gua kelelawar, lembap dan gelap, mungkin udah saatnya niru strategi Pak Rahmat. Karena kadang, solusi gak harus mahal, cukup pakai akal.

Dan jangan lupa, kalau jendela hati aja bisa dibuka, masa jendela rumah enggak?

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *