Di sebuah kepala yang sering overthinking, hiduplah dua tetangga bernama Otak Kanan dan Otak Kiri. Walaupun satu rumah, mereka nggak akur-akur amat. Si Otak Kiri kaku banget—hidupnya penuh logika, angka, dan jadwal makan teratur. Sementara si Otak Kanan… ya bisa dibilang anak senja: puitis, spontan, emosional, dan kadang suka drama.
Suatu hari, Otak Kanan bangun tidur dengan kepala cenat-cenut. Dia langsung nuduh Otak Kiri.
“Lu ya! Kebanyakan mikir angka semalam. Spreadsheet lo sampe bikin aku mimpiin kalkulator berdarah!”
Otak Kiri ngerasa difitnah.
“Bro, justru gara-gara lu terlalu perasa! Tiap liat story mantan, langsung baper. Lalu tidur sambil nangis, posisi kepala miring kanan, ya nyut-nyut lah!”
Tiba-tiba muncul suara dari bawah—dari bagian tubuh yang jarang dianggap penting tapi sering jadi sumber masalah: Leher.
“Maaf ganggu ya, para intelektual. Tapi gue semalam ketekuk 45 derajat gara-gara bantalnya nggak mendukung. Migrain sebelah kanan ini kayaknya bukan cuma salah kalian berdua.”
Nah loh.
Ini namanya “Misplaced Blame” – Kita sering nuduh yang kelihatan, padahal masalahnya tersembunyi.

Migrain sebelah kanan emang nyebelin. Dia datang tanpa izin, lalu nongkrong berjam-jam kayak mantan yang belum move on. Tapi jangan buru-buru salahin stres doang. Mari kita bongkar satu per satu dalangnya.
- Saraf Trigeminal yang Baperan
Migrain sering kali dipicu oleh aktivitas saraf trigeminal, alias si saraf sensitif yang langsung nyambung ke wajah dan kepala. Ketika dia kebanyakan stimulasi—cahaya terang, suara bising, atau aroma parfum yang nyengat—langsung deh, dia tantrum.
Apalagi kalau kamu tipe yang suka scroll HP di tempat gelap. Itu sama aja ngajak saraf trigeminal duel.
Ini namanya “Overstimulated System” – Ibarat pacar yang terlalu banyak kejutan, akhirnya capek sendiri.
- Hormonal Drama Tiada Akhir
Buat cewek-cewek, migrain sebelah kanan sering muncul menjelang menstruasi. Bukan karena semesta jahat, tapi karena si hormon estrogen lagi main sinetron.
Ketika hormon turun drastis, pembuluh darah di kepala bisa bereaksi, dan… boom! Migrain.
Ini bukan sekadar drama, ini “Biological Cliffhanger” – plot twist dalam tubuh kita sendiri.
- Pola Tidur Kayak Teaser Film
Tidur jam 3 pagi, bangun jam 7, lalu tidur lagi jam 10 siang. Pola tidur kayak gini bukan cuma bikin mimpi ketemu tuyul, tapi juga nyiksa otak kanan.
Migrain sebelah kanan itu kadang bentuk protes karena kamu ngatur jadwal tidur kayak bikin trailer horor—nggak jelas plotnya.
Ini namanya “Chrono Chaos” – waktu istirahat yang berantakan bikin kepala ikutan rusuh.
- Makanan yang Bikin Salah Paham
Coklat, keju, makanan yang diasinkan, bahkan kopi kesayangan bisa jadi pemicu migrain. Kadang bukan makanannya yang salah, tapi cara tubuh kita merespons. Sistem saraf kita bisa jadi terlalu sensitif dan bereaksi berlebihan.
Jadi kalau abis ngemil terus kepala nyut-nyutan, mungkin saatnya introspeksi, bukan langsung blacklist keju dari hidupmu.
Ini namanya “Body’s Betrayal” – ketika tubuh nyuruh kamu move on dari makanan favorit.
- Masalah Leher yang Jarang Dilirik
Leher kaku, salah posisi tidur, atau duduk di depan laptop berjam-jam tanpa jeda, bisa bikin saraf di sekitar kepala terjepit. Dan efeknya? Ya itu tadi, migrain sebelah kanan yang kayak digetok palu sidang.
Kadang migrain itu bukan soal pikiran, tapi posisi. Salah posisi sedikit, akibatnya bisa lama.
Ini namanya “Structural Sabotage” – bentuk tubuh yang salah bisa sabotase ketenangan jiwa.
Jadi kalau kepala kamu sering nyut-nyutan di sebelah kanan, jangan langsung minta diseduh teh hangat sambil menyalahkan dunia. Coba deh ngobrol sama diri sendiri. Siapa tahu kamu lagi kurang tidur, salah bantal, atau… belum move on dari kejadian dua tahun lalu.
Karena kadang, migrain itu bukan penyakit. Tapi cara tubuh bilang, “Hei, aku capek. Bisa nggak lo istirahat sebentar aja?”
Sementara itu, di ujung otak kanan, si Otak Kiri udah nyiapin catatan:
Solusi Sementara Migrain Sebelah Kanan:
- Kompres dingin atau hangat di sisi yang nyeri
- Istirahat di tempat gelap dan tenang
- Minum air putih yang cukup
- Hindari makanan pemicu
- Stretching ringan kalau leher terasa kaku
- Dan yang paling penting: jangan ngoyo!
Karena ini namanya “Listen to Your Body” – tubuh punya bahasa sendiri, kita tinggal mau ngerti atau enggak.
Jadi, kalau kepala kanan nyut-nyutan lagi… jangan langsung panik. Mungkin itu cara tubuh bilang, “Bro, slow down dulu. Dunia masih muter kok, walau lo rebahan sebentar.”
Dan kalau udah kelamaan migrainnya, ya jangan sok kuat juga. Mampir ke dokter, periksa, dan jangan anggap sepele. Karena walau gaya hidup bisa jadi biang kerok, kadang ada kondisi medis serius yang tersembunyi di balik nyeri itu.
Migrain bukan kutukan, bukan juga azab. Tapi mungkin, itu alarm kecil… bahwa tubuh kita butuh kamu, bukan sebagai bos, tapi sebagai sahabat.