Di sebuah negeri penuh deadline dan notifikasi yang nggak kenal waktu, hiduplah seorang karyawan bernama Doni. Doni ini bukan sembarang karyawan. Dia ahli dalam dua hal: datang ke kantor telat lima menit dan nahan migrain kayak jagoan.
Suatu hari, ketika Doni lagi berusaha tampak sibuk di depan layar komputer yang isinya cuma Excel kosong, tiba-tiba migrainnya datang. Datangnya bukan pakai salam, tapi kayak gebukan genderang perang di bagian kiri kepalanya.
Doni langsung pegang kepala, mulutnya ngeluh, “Aduh migrain kambuh lagi…”
Datanglah Rina, rekan kerjanya yang terkenal sok tahu tapi kadang benar. “Pijat aja, Don! Aku baca katanya kalau titik tertentu ditekan, migrain bisa hilang!”
Doni nyengir kecut. “Lah, kepala gue bukan tombol dispenser, Rin.”
Ini namanya “Skeptical Reflex” – Naluri ragu setiap kali saran datang dari orang yang biasa kasih tips kesehatan berdasarkan zodiak.
Tapi karena udah kepepet—dan obat di laci udah kadaluarsa sejak pandemi pertama—akhirnya Doni nurut. Rina pun mulai memijat bagian pelipis Doni dengan semangat layaknya dukun pijat langganan emak-emak komplek.

“Gimana, Don?”
“Kayak… makin cenat-cenut sih. Tapi setidaknya gue lupa kalau tadi bos gue marahin.”
Ini namanya “Distracted Healing” – Ketika rasa sakit baru bikin kita lupa rasa sakit lama.
Tapi tunggu dulu. Sebenernya, boleh nggak sih migrain dipijat?
Menurut teori dan sebagian dokter, jawabannya: bisa, tapi hati-hati!
Karena kalau yang kamu alami itu bukan migrain biasa tapi sakit kepala cluster atau bahkan gejala stroke ringan, pijat sembarangan bisa bikin tambah parah.
Ini namanya “Know Before You Push” – Nggak semua yang bisa ditekan, boleh ditekan. Termasuk tombol emosi pasangan.
Nah, kalau migrain yang kamu alami memang migrain klasik, teknik pijat tertentu emang bisa membantu. Titik-titik refleksi seperti antara dua alis (titik Yintang), pangkal tengkuk, dan area sekitar pelipis bisa dirangsang dengan tekanan lembut buat meredakan ketegangan.
Tapi ingat: pijatan bukan pengganti pengobatan!
Ini namanya “Relief is Not a Cure” – Meredakan bukan berarti menyembuhkan. Sama kayak orang yang bilang “aku nggak marah kok”, tapi diamnya kayak silent mode HP, tetap aja bikin tegang.
Balik ke Doni. Setelah dipijat Rina, migrainnya memang nggak langsung hilang. Tapi yang terjadi lebih menarik…
Dia ketiduran.
Dan ketika bangun, kepala udah jauh lebih ringan. Tapi ada suara dari belakang:
“Doni, kerjaan lo mana?!”
Suara bos yang legendaris itu membuyarkan semuanya.
Doni gelagapan, “Eee… saya abis terapi migrain, Pak.”
Bos cuma melotot, “Mau saya terapin surat peringatan juga?”
Ini namanya “No Sympathy in Corporate World” – Migrain lo bukan urusan KPI.
Setelah insiden itu, Doni belajar satu hal penting: kalau mau mijat saat migrain, lebih baik tahu dulu jenis migrain lo apa. Dan yang paling penting, lakukan di tempat dan waktu yang tepat. Bukan di meja kerja pakai tisu basah aromaterapi yang udah expired dari Idul Fitri tahun lalu.
Dan Rina? Dia nggak kapok. Minggu berikutnya dia saranin Doni buat coba totok aura.
Doni cuma senyum miris. “Rin, kepala gue bukan powerbank. Jangan coba-coba colokin energi.”
Ini namanya “Boundaries Matter” – Bahkan solusi kesehatan perlu batas, apalagi dari teman yang lulusannya jurusan manajemen, bukan kedokteran.
Jadi, apakah migrain boleh dipijat? Boleh, asal tahu batasan dan jenis sakitnya.
Jangan asal neken, karena kepala itu bukan klakson motor. Kadang dipijat bisa bantu, kadang malah memperburuk.
Sama kayak hidup: ada masalah yang bisa diselesaikan dengan sentuhan lembut, ada yang harus ditangani dengan konsultasi serius. Dan kalau kamu ragu, mending ke dokter. Jangan cuma andelin teman yang ngaku-ngaku pernah ikut seminar kesehatan 30 menit di TikTok Live.
Ini namanya “Trust the Right Source” – Percaya sama yang bener, bukan yang paling rame.
Akhir cerita, Doni sekarang udah langganan ke klinik akupresur. Bukan karena takut dipijat Rina lagi, tapi karena dia sadar: sehat itu investasi, bukan eksperimen.
Dan setiap kali migrain kambuh, dia tarik napas, minum air putih, dan bilang dalam hati:
“Migrain, boleh datang, asal jangan pas tanggal tua.”
Ini namanya “Pain Management with Budget Awareness” – Karena migrain itu sakit, tapi dompet kempes jauh lebih menyiksa.