Di sebuah kantor penuh deadline dan suara printer yang tiada henti, hiduplah seorang karyawan bernama Dani. Dani ini bukan siapa-siapa. Dia bukan bos. Bukan manajer. Bahkan buat beli nasi padang saja, kadang masih nunggu tanggal gajian. Tapi satu hal yang bikin Dani jadi legenda di antara teman-temannya: dia langganan migrain.
Iya, migrain. Yang datangnya tiba-tiba, seperti mantan yang tiba-tiba ngajak balikan pas kita udah bahagia.
Nah, suatu hari, migrain Dani kambuh pas dia lagi presentasi. Slide belum kelar, klien udah pasang muka datar. Otak Dani muter-muter cari jalan keluar. Obat? Ketinggalan. Pijet? Gak mungkin. Panggil tukang urut? Jangan mimpi. Tapi saat Dani udah hampir nyerah, dia tiba-tiba inget sesuatu yang pernah dia baca di Twitter (yang tentu saja belum diverifikasi WHO):
“Kalau migrain, coba tekan titik di antara jempol dan telunjuk. Namanya Hegu Point.”
Dengan sisa-sisa tenaga, Dani menekan bagian antara ibu jari dan jari telunjuk tangan kirinya. Lalu dia tarik napas. Dalam. Dalam banget. Saking dalamnya, klien pun jadi bingung: “Dia lagi presentasi atau meditasi?”
Dan kamu tahu apa yang terjadi?
Migrainnya gak langsung hilang, tentu saja. Ini bukan sinetron. Tapi ada rasa aneh, semacam lega yang pelan-pelan naik dari ujung jemari ke pelipis. Dan Dani, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, bisa menyelesaikan presentasi tanpa penglihatan buram atau ingin muntah.

Ini Namanya Refleksiologi – Bukan Sekadar Pijit Iseng
Titik di antara jempol dan telunjuk itu bukan sekadar tempat nyangkut remah keripik. Dalam dunia refleksiologi, titik itu disebut LI4 atau Hegu Point. Konon katanya, ini titik sakti untuk mengatasi sakit kepala, stres, bahkan nyeri menstruasi.
Orang Tiongkok zaman dulu percaya bahwa tubuh manusia penuh dengan jalur energi, seperti jalan tol. Kalau ada macet—entah karena stres, kurang tidur, atau terlalu banyak mikirin mantan—maka jalur itu bisa buntu. Nah, memijat titik-titik tertentu dianggap bisa “melancarkan lalu lintas” energi dalam tubuh.
Jadi, saat kamu tekan Hegu Point, kamu kayak lagi buka portal. Tapi bukan ke dunia lain, melainkan ke keseimbangan tubuhmu sendiri.
Tapi Ingat, Ini Bukan Solusi Instan – Ini Namanya “Alternative Insight”
Sama kayak diet gak bikin langsung kurus setelah sehari, menekan jari juga bukan tombol ajaib yang bikin migrain minggat seketika. Tapi setidaknya, ini salah satu senjata kecil di tengah medan perang bernama “Hidup Dewasa”.
Dan menariknya, titik ini gak cuma satu. Kalau kamu lagi rajin riset (dan gak males), ada juga titik pijat di pelipis, leher belakang, dan kaki yang katanya bisa bantu redakan migrain juga.
Tapi entah kenapa, titik di antara jempol dan telunjuk ini yang paling dicintai umat manusia. Mungkin karena gampang dijangkau. Atau karena sambil pura-pura pegang HP, kamu bisa diam-diam mijit tanpa ketahuan bos.
Ini Namanya “Knowledge is Pressure” – Tekanan yang Membebaskan
Dulu Dani pikir semua sakit kepala cuma bisa diselesaikan dengan tidur atau obat. Tapi ternyata, tubuh punya bahasa sendiri. Dan kadang, dia cuma butuh disentuh dengan tepat. Bukan dirusuh. Bukan diabaikan. Hanya… ditekan sedikit.
Maka sejak hari itu, Dani jadi “si pemijat profesional” di kantor. Tiap ada yang pegang kepala sambil bilang, “Aduh, pusing,” dia langsung muncul dari balik kubikel sambil ngomong:
“Udah tekan Hegu Point, belum?”
Bukan. Dia bukan dukun. Bukan pula tabib. Tapi dia tahu, kadang solusi itu bukan di luar—tapi di ujung jari sendiri.
Dan Ini Namanya “Healing Tanpa Biaya Admin”
Kadang kita terlalu sibuk cari obat mahal, terapi mutakhir, atau alat canggih. Padahal tubuh sudah dikasih sistem cadangan oleh semesta. Tinggal mau pakai atau enggak.
Kamu migrain? Jangan panik. Duduk dulu. Tarik napas. Lalu tekan pelan-pelan bagian antara jempol dan telunjukmu. Rasakan denyut kecil di situ. Tahan sekitar 30 detik. Lalu ganti tangan.
Kalau kamu merasa sedikit lega, jangan buru-buru bilang itu placebo. Karena kadang, yang kamu butuhkan bukan obat, tapi perhatian. Dan tanganmu sendiri bisa jadi alat penyembuh paling pertama… sekaligus paling setia.
Jadi, Jari Mana yang Harus Ditekan Saat Migrain?
Jawabannya bukan soal jarinya. Tapi bagian di antara jempol dan telunjuk. Dan bukan hanya saat migrain datang. Tapi juga saat kamu mulai lupa bahwa tubuhmu bukan mesin. Bahwa kamu punya batas. Dan bahwa sesekali, kamu boleh berhenti… hanya untuk menekan titik kecil yang mengingatkanmu:
“Kamu masih hidup. Kamu bisa sembuh. Pelan-pelan, tapi pasti.”
Ini Namanya: Mendengar Tubuh Sebelum Ia Berteriak.