Di sebuah kosan pinggir jalan, tinggallah seorang makhluk lembut bernama Rani. Mahasiswi tingkat akhir, penuh ambisi, tapi minim tidur. Tiap malam kerjaannya buka laptop, baca jurnal, buka YouTube buat “belajar”, eh ujung-ujungnya nonton video kucing nyanyi lagu India.

Suatu malam, saat jam udah nunjukin angka 03.00, Rani masih duduk manis depan layar, ngelototin skripsi yang nggak maju-maju. Tiba-tiba…

DUARRR!!!

Bukan petasan. Tapi kepalanya. Migrain menyerang tanpa permisi, kayak mantan yang tiba-tiba nge-chat: “Kamu lagi apa?”

Sambil pegang kepala, Rani meringis. Matanya nyut-nyutan, cahaya lampu serasa tamparan neraka. Dia rebahan, tapi tetep nggak bisa tidur. Migrainnya makin jadi. Dan saat itulah muncul satu pertanyaan eksistensial:

“Gara-gara begadang ya ini? Emang kurang tidur bisa bikin migrain?”

Jawabannya?

Iya, bisa banget.

Ini namanya “Body Alarm” – Tubuh tuh kayak satpam, kalau diganggu terus, dia bakal ngeluarin sirine!

Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa. Dia itu diva. Datengnya bisa tiba-tiba, ribet, dan penuh drama. Pemicu migrain itu banyak: makanan, hormon, stres, bahkan bau parfum mantan. Tapi yang sering dilupain? Tidur yang kacau.

Kurang tidur tuh kayak minum kopi 3 liter tapi berharap bisa tenang. Otak lo butuh istirahat. Kalau enggak dikasih, dia ngamuk. Migrain jadi caranya protes, kayak demo di depan kampus. Keras, nyakitin, tapi punya maksud.

Dan sayangnya, Rani bukan satu-satunya korban.

Di kantor sebelah kosannya, ada Mas Rudi. Umur 33, kerja di bagian data, hidupnya bagai Excel berjalan. Malam-malam kerja lembur demi target. Besoknya, datang ke kantor kayak zombie minum kopi.

Ketika ditanya kenapa mukanya kayak dikeroyok semut merah, jawabnya simpel:

“Migrain, Bro. Kepala gue protes.”

Ini namanya “When The Brain Fights Back” – Otak juga manusia. Kalau capek, dia mogok.

Banyak orang masih nganggep remeh tidur. Kayak, “Ah, masih muda. Tidur mah ntar aja.” Tapi faktanya, kurang tidur = otak ngambek = migrain. Tidur itu kayak charger buat otak. Lo bisa pakai HP sambil dicas, tapi jangan heran kalau nanti HP-nya ngedrop juga.

Dan yang lebih kocaknya, ada juga orang yang mikir:

“Tidur berlebihan aja bikin pusing. Jadi mending sekalian aja deh nggak tidur.”

Wah, yang kayak gini biasanya juga percaya kalau mie instan tiap hari itu sehat.

Ini namanya “Miskonsepsi Berbahaya” – Salah paham yang bisa bikin kepala berantakan.

Sebenarnya, baik kurang tidur maupun kelebihan tidur, dua-duanya bisa picu migrain. Tapi dalam konteks si Rani dan Mas Rudi, jelas kurang tidur jadi kambing hitamnya.

Kita kadang mikir produktivitas itu dinilai dari seberapa sering kita melek. Padahal, otak kita nggak bisa kerja kayak mesin pabrik. Dia butuh jeda. Butuh tidur. Butuh gelap. Butuh mimpi ketemu oppa Korea, bukan ketemu deadline.

Satu studi lucu tapi nyata bilang: orang yang tidur kurang dari 6 jam semalam punya risiko lebih tinggi kena migrain dibanding yang tidur 7-8 jam. Dan lucunya, pas mereka tidur cukup, intensitas migrainnya menurun.

Ini namanya “Sleep Therapy” – Solusi paling murah dan efektif: tidur!

Tapi tentu aja, tidur juga nggak bisa asal. Tidur jam 5 pagi terus bangun jam 1 siang, itu bukan tidur berkualitas. Itu jet lag lokal.

Jadi solusinya?

Tidur cukup, konsisten, dan berkualitas. Tidur yang bener, bukan tidur pura-pura di Zoom meeting.

Si Rani akhirnya sadar. Setelah tiga malam berturut-turut diserang migrain, dia ambil keputusan besar:

“Mulai malam ini, aku tidur jam 10.”

Teman-temannya langsung tepuk tangan, kayak denger Rani lolos sidang skripsi. Dan hasilnya? Tiga hari tanpa migrain. Mukanya cerah, kayak abis facial. Mood-nya stabil, nggak marah-marah cuma gara-gara odol abis.

Ini namanya “Lifestyle Upgrade” – Nggak perlu serum 700 ribu, cukup tidur cukup!

Sementara Mas Rudi? Setelah migrain-nya kumat pas meeting pagi, dia putuskan: jam 11 malam udah harus di kasur. Dan sejak itu, dia nggak pernah lagi ngerasa otaknya kayak di-blender tiap pagi.

Akhir cerita, kita belajar satu hal penting: Jangan anggap remeh tidur.

Kalau otak lo bisa ngomong, dia bakal bilang:

“Bro, gue bukan mesin fotokopi. Gue butuh tidur juga.”

Jadi mulai malam ini, matikan lampu, simpan gadget, dan rebahan dengan damai.

Karena dalam dunia per-migrain-an, kadang satu jam tidur lebih berharga dari satu liter kopi.

Dan itu bukan sekadar gaya hidup sehat. Itu bentuk rasa sayang kita ke otak sendiri.

Ini namanya “Respect Your Brain.”

Tanya kenapa kamu migrain?

Coba tanya dulu: Udah tidur belum?

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *