Di suatu malam yang hening dan penuh harapan, seorang manusia bernama Lala sedang bergulat dengan nasib. Bukan, bukan karena mantan nikah duluan, tapi karena kepalanya lagi-lagi nyut-nyutan. Bukan dua sisi, bukan tengah, tapi spesialis satu sisi: kanan.
Migrainnya datang tanpa permisi, kayak mantan yang tiba-tiba kirim “apa kabar?” padahal udah dua tahun hilang dari radar. Sambil meringis dan menggenggam bantal dengan posisi tidak estetik, Lala bertanya dalam hati:
“Gue harus tidur posisi gimana sih biar kepala ini nggak terasa kayak dihantam palu Thor?”
Ini namanya “Sleeping Survival Mode” – ketika tidur bukan lagi kegiatan santai, tapi misi bertahan hidup dari penderitaan sebelah kepala.
Sekarang mari kita bahas: apa posisi tidur terbaik saat migrain? Apakah telentang seperti orang pasrah? Miring seperti udang rebus? Atau tengkurap seperti dinosaurus kelelahan?
Sebelum jawabannya muncul, kita harus tahu dulu: migrain itu bukan sekadar sakit kepala. Ini adalah drama otak yang menyertakan pembuluh darah melebar, saraf sensitif, dan terkadang bonus aura yang bikin lo merasa kayak lagi di dunia lain.

Ini namanya “Otak Drama Queen” – dia nggak mau sakit biasa, maunya spesial, penuh efek samping.
Saat migrain menyerang, banyak orang salah langkah. Mereka mikir, “tidur aja deh, besok juga ilang sendiri.” Tapi faktanya, tidur dengan posisi yang salah justru bisa bikin migrain makin betah. Kepala yang udah berat sebelah, malah tambah ditekan posisi tidur yang salah arah.
Lalu, posisi apa yang ideal?
Menurut ahli yang kerjaannya ngamatin orang tidur (dan bukan stalker), posisi telentang dengan penyangga leher yang baik adalah salah satu posisi paling aman saat migrain. Dengan posisi ini, tulang belakang, leher, dan kepala lo berada dalam garis lurus. Nggak ada tekanan aneh-aneh yang bisa memicu nyeri lebih parah.
Ini namanya “Anatomical Alignment” – posisi tidur yang nyambungin leher sama otak biar nggak salah paham.
Tapi… nggak semua orang nyaman tidur telentang. Ada juga tipe yang harus miring baru bisa tidur, biasanya sambil meluk guling kayak lagi nggak rela ditinggal.
Nah, buat kamu tim tidur miring, pastikan tidur ke sisi yang tidak sakit. Misalnya, kalau migrainnya di sebelah kanan, ya miringlah ke kiri. Kenapa? Karena tekanan langsung di sisi kepala yang sakit bisa memperparah sensasi denyutan. Ibarat luka, jangan digaruk. Kalau digaruk, ya berdarah lagi.
Ini namanya “Pain Position Strategy” – belajar memposisikan diri di tengah kesakitan dan kenyamanan.
Dan satu hal penting lagi: hindari tidur tengkurap.
Ya, walaupun keliatannya lucu dan nyaman kayak bayi ayam baru netas, posisi tengkurap bikin leher dipelintir kayak kabel headset masuk kantong. Padahal, leher itu punya hubungan erat dengan migrain. Kalau leher stres, kepala bisa balas dendam.
Ini namanya “Wrong Turn” – salah posisi, salah jalan, ujung-ujungnya nyasar ke rumah sakit.
Lala akhirnya sadar setelah semalaman berjuang di ranjang dengan posisi seperti origami gagal: kepala di bantal, kaki naik tembok, tangan nyari colokan. Besok paginya, migrainnya makin parah.
Setelah konsultasi dengan Google, TikTok, dan akhirnya dokter sungguhan (yang bisa jawab dengan logika dan bukan sekadar “coba minum es kelapa”), Lala pun merapikan gaya tidurnya.
- Pakai bantal yang menopang leher, bukan cuma bikin tinggi.
- Tidur telentang kalau bisa, atau miring ke sisi yang sehat.
- Matikan lampu atau pakai penutup mata.
- Hindari kebiasaan main HP sambil tiduran. Karena posisi kepala yang nunduk terus itu undangan buat migrain datang ngetuk.
Ini namanya “Preventive Chill” – pencegahan migrain dimulai dari kasur, bukan dari apotik.
Ternyata, posisi tidur memang sepenting itu. Migrain bukan penyakit yang bisa disembuhkan dengan “ya udah tidur aja.” Kadang justru tidur yang sembarangan itu penyebabnya. Sama seperti hubungan—kalau salah posisi dari awal, ujung-ujungnya sakit hati.
Sekarang Lala udah jadi expert. Setiap mulai kerasa kepala berat, dia buru-buru naik ke kasur, atur posisi kayak pemain yoga, matiin lampu, dan napas pelan. Kadang, dia tambahin aromaterapi, karena ya… hidup harus tetap estetik meski nyut-nyutan.
Jadi, buat kamu yang migrainnya hobi mampir, jangan cuma fokus ke obat. Lihat juga posisi tidurmu. Karena tidur yang benar bisa jadi setengah dari penyembuhan. Sementara tidur yang salah? Bisa bikin pagi lo dimulai dengan pertanyaan:
“Kenapa hidup ini berat… sebelah?”
Ini namanya “Therapeutic Nap” – ketika tidur bukan pelarian, tapi penyelamatan.
Jadi, bagaimana posisi tidur saat migrain?
Tidur telentang, atau miring ke sisi yang tidak sakit. Jauhkan HP, matikan lampu, dan jangan tengkurap. Kalau tidurmu benar, mungkin migrainmu bakal mikir dua kali buat mampir lagi.
Dan ingat, kadang penyembuhan bukan soal obat… tapi soal cara kita rebahan.