Di suatu sore yang mendung, dengan langit mendung seperti tagihan yang belum dibayar, datanglah migrain menyerang kepala seorang pria bernama Darto. Si Darto ini bukan orang sembarangan. Dia dikenal sebagai “CEO Migrain Nasional” karena migrainnya bisa datang lebih rajin daripada pacar yang nanyain “udah makan belum?”.
Hari itu, Darto sedang duduk di kantor, dikejar deadline dan realita hidup. Tiba-tiba, migrain datang seperti mantan yang masih menyimpan dendam. Tepat di pelipis kiri, nyut-nyutan seperti genderang perang.
Darto mengeluh, “Ya Tuhan, ini kepala rasanya kayak habis ditabok masa lalu.”
Lalu datanglah rekan kerjanya yang suka sok tahu, si Bobby. Dia bilang, “Bro, kalau migrain tuh jangan cuma minum obat. Coba deh pijat-pijat titik tertentu. Itu katanya bisa bantu banget.”
Darto pun bengong, “Gue harus mijat kepala sendiri, Bob?”
“Bukan cuma kepala, bro. Ada titik-titik tertentu. Ini namanya akupresur. Gue pernah lihat di TikTok.”
Dan dimulailah petualangan Darto mencari tahu: Di mana sebenarnya harus menggosok untuk meredakan migrain?
- Titik di Antara Alis – Si Penjaga Gerbang Migrain
Bobby menyuruh Darto mencet titik di antara alis, tepat di atas batang hidung. Katanya itu namanya “Titik Yintang”.
Darto mencoba mencet dengan penuh harapan dan sedikit emosi. Setelah 30 detik, dia bilang, “Kok kayak dipencet dosa-dosa masa lalu ya…”
Tapi lama-lama rasa nyut-nyutan di pelipis mulai berkurang. Ini namanya “Hope in Pressure” – Harapan datang dari tekanan, literally.
- Pijat Leher Bagian Belakang – Pencet Kenangan Pahit
Bobby lanjut bilang, “Coba pijat pangkal leher belakang lo, dua sisi kanan-kiri tulang belakang.”
Darto ngelakuin. Sekilas, dia kayak lagi nyobain jadi transformer yang hampir rusak.
Setelah 2 menit, dia bilang, “Bro, ini titik kayak nyimpan semua stres dari rapat hari Senin deh.”
Ternyata memang di leher bagian belakang itu ada titik yang terhubung dengan saraf ke otak. Ini namanya “Neckflix and Heal” – santai sambil sembuh.

- Gosok Pelipis – Titik Klise tapi Efektif
“Titik klasik, bro! Pelipis!” kata Bobby, dengan semangat seperti dosen yang baru baca jurnal ilmiah satu lembar.
Darto menggosok pelipisnya. Perlahan. Berputar. Lalu ganti arah. Lalu balik lagi.
Sambil gosok dia bergumam, “Kenapa ya, ini kayak mengusap kebodohan hidup…”
Setelah 5 menit, dia diem.
“Eh… ini enakan dari obat ya.”
Ini namanya “Old but Gold” – cara lama yang tetap ampuh dan berkelas.
- Antara Ibu Jari dan Telunjuk – Titik Sakti Tangan Sakti
Bobby, yang makin mirip dukun migrain, menyuruh Darto mencet titik di antara ibu jari dan telunjuk. Katanya namanya “LI4”, dan bukan, itu bukan nama robot dari Jepang.
Darto mencet sambil komat-kamit, “Ini tangan, kenapa harus ikut-ikutan?”
Tapi setelah 2 menit, rasa sakit di kepala seperti teralihkan.
Ini namanya “Distract to Heal” – alihkan rasa sakit ke titik lain, biar kepala bisa napas.
- Pijat Kaki? Iya, Serius. Titik Refleksi!
“Gue tahu ini aneh, tapi coba pijat kaki juga,” kata Bobby.
Darto kaget, “Migrain di kepala, tapi yang dipijat kaki? Kayak mobil mogok, tapi yang dibenerin klakson.”
Ternyata di tengah telapak kaki ada titik refleksi untuk kepala dan otak. Darto coba gosok-gosok, pakai lotion biar wangi, sambil nonton sinetron.
Lima menit kemudian, dia merasa lebih rileks. Ini namanya “Heal from the Ground Up” – kadang yang di atas butuh bantuan dari yang di bawah.
Akhir Cerita: Si Migrain Pergi Tanpa Pamit
Setelah 20 menit menjelajah titik-titik misterius di tubuh, migrain Darto perlahan kabur. Seperti utang temen yang gak pernah ditagih, dia hilang tanpa bekas.
Darto senyum ke Bobby, “Gokil juga lo, Bob. Ternyata gosok-gosok lebih efektif dari obat.”
Bobby jawab, “Gue sih percaya, kalau tubuh kita tuh pabrik penyembuhan paling canggih. Kita aja yang suka lupa baca manual book-nya.”
Dan dari situlah Darto akhirnya belajar satu hal penting.
Ini namanya “Body Intelligence” – Tubuh kita tahu caranya sembuh. Kita cuma harus dengerin.
Jadi, di mana harus menggosok untuk migrain?
Jawabannya bukan cuma di kepala, tapi juga di tangan, kaki, bahkan di antara alis yang mungkin menyimpan beban hidup. Kadang yang kita butuhin bukan obat mahal, tapi kesadaran dan gosokan penuh cinta.
Karena kadang, tubuh kita cuma pengen dipijit, bukan diabaikan.
Dan sejak hari itu, tiap kali migrain datang, Darto nggak lagi panik. Dia tinggal bilang ke dirinya sendiri, “Oke, waktunya nyalain mode pijat. Gosok dulu, ngeluh nanti.”