Di sebuah kantor antah berantah, tepat jam 10 pagi, seorang karyawan bernama Dito mendadak memegangi kepala. Bukan karena pusing mikirin kerjaan, tapi karena ada sensasi seperti palu godam ngetok-ngetok pelipis kanannya.
“Wah, migrain nih…” gumamnya lirih.
Teman sekantornya nyeletuk, “Migrain lagi? Sisi kanan? Waduh, jangan-jangan itu tanda kamu terlalu mikir hal-hal yang nggak bisa kamu kendalikan!”
Dito bengong.
Ini namanya “Mind-Blowing Realization” – Ketika rasa sakit membuka tabir kehidupan yang lebih dalam.
Ya, migrain di sisi kanan bukan cuma tentang syaraf atau otot tegang. Bisa jadi, itu sinyal dari tubuh kalau kita terlalu banyak menyimpan beban—baik yang terlihat, maupun yang hanya ada di kepala.
Menurut ilmu medis, migrain di sisi kanan biasanya dipicu oleh stres, kurang tidur, cahaya terang, atau bahkan makanan tertentu. Tapi… coba deh kita kupas dari sisi yang lebih filosofis.
Ini namanya “Metafora Migrain” – Rasa sakit yang ngomong lebih banyak daripada mulut lo.
Bayangin, otak itu kayak kantor pusat kehidupan. Sisi kanan otak dikenal sebagai pusat kreativitas, imajinasi, dan intuisi. Jadi, kalau bagian kanan kepala lo nyut-nyutan, mungkin otak lo udah lelah ngadepin dunia yang serba logis, kaku, dan terlalu “aturan banget.”
Sama kayak Dito. Kerjaannya tiap hari disuruh bikin laporan, ikut rapat yang nggak penting-penting amat, dan ngikutin prosedur sampai nggak sempet napas. Padahal dalam hati kecilnya, dia cuma pengen buka kedai kopi kecil di pojok taman.
Ini namanya “Inner Conflict” – Ketika jiwa lo pengen A, tapi dunia maksa lo jadi Z.
Suatu hari, Dito memutuskan buat ke dokter karena migrainnya makin sering.
Dokternya bilang, “Secara medis, kamu sehat. Cuma butuh relaksasi dan waktu istirahat.”
Dito senyum kecut.
Ini namanya “Jawaban Klise” – Saat lo pengen solusi konkret, tapi yang dikasih cuma saran ala brosur klinik.
Tapi Dito nggak nyerah. Dia mulai baca-baca. Ternyata, banyak orang ngalamin hal yang sama. Migrain di sisi kanan sering muncul saat seseorang berada dalam tekanan yang nggak dia sadari. Kayak HP yang keliatannya normal, tapi dalemnya udah overheat.
Dia mulai sadar, setiap kali migrain itu datang, pasti habis ketemu bos yang tukang kritik, habis rapat yang bikin emosi, atau habis denger kabar dari rumah yang bikin hati campur aduk.
Bukan karena makan keju atau telat minum kopi. Tapi karena hatinya udah terlalu kenyang sama tekanan.
Ini namanya “Silent Alarm” – Tubuh lo udah teriak, tapi lo sibuk matiin alarmnya tiap hari.

Akhirnya Dito coba pelan-pelan ubah gaya hidup. Bukan langsung resign dan buka kedai kopi (walau itu impiannya), tapi mulai dari hal kecil: tidur lebih teratur, olahraga ringan tiap pagi, dan—ini penting—belajar bilang “nggak” ke hal-hal yang bikin dia tertekan.
Setiap kali bosnya nyuruh lembur tanpa alasan jelas, Dito bilang, “Maaf Pak, saya ada jadwal pribadi malam ini.”
Awalnya was-was, tapi lama-lama biasa.
Migrainnya? Pelan-pelan jarang datang. Kadang masih nyapa, tapi udah nggak sesering dulu.
Ini namanya “Self-Respect” – Ketika lo sadar, kepala lo itu berharga, bukan buat jadi tempat sampah stres orang lain.
Dan lo tau nggak? Setelah beberapa bulan, Dito iseng jualan kopi online. Dia bikinin branding, pakai nama “Kepala Kanan Coffee.” Katanya, “Ini kopi buat yang sering sakit kepala kanan karena kerjaan, tapi nggak berani ngelawan sistem.”
Kopi itu laku. Bukan cuma karena rasanya, tapi karena kisah di baliknya.
Ini namanya “Healing Through Meaning” – Saat rasa sakit berubah jadi kekuatan dan cerita yang bisa nyembuhin orang lain.
Jadi kalau kamu sering migrain di sisi kanan, mungkin tubuhmu lagi bisik-bisik pelan:
“Woy, lo tuh butuh ruang buat jadi diri sendiri.”
Jangan buru-buru minum obat doang. Coba juga dengerin isi kepala lo. Siapa tahu, di balik nyut-nyutan itu, ada suara hati yang selama ini lo cuekin.
Ini namanya “Headache with a Message” – Rasa sakit itu bukan musuh, kadang dia cuma utusan.
Karena pada akhirnya, pertanyaan penting bukan cuma “Apa arti migrain di sisi kanan?”
Tapi, “Apa yang selama ini lo pikirin, tapi nggak pernah lo ucapin?”
Dan mungkin… itu jawabannya.