Di sebuah kantor yang penuh deadline dan sisa kopi kemarin, terjadi sebuah tragedi luar biasa: kepala bagian keuangan, Pak Bambang, tiba-tiba terkapar di sofa ruang rapat dengan ekspresi seperti habis nonton film sedih tapi listrik padam di tengah-tengah.

“Gue pusing, bro… Dunia kayak muter-muter, tapi saldo rekening tetep diam di tempat,” keluh Pak Bambang sambil mijit-mijit pelipisnya.

Ini namanya “Early Symptoms Recognition” – Kalau udah kerasa tanda-tandanya, jangan nekat lanjut kerja kayak superhero yang nggak digaji.

Lalu datanglah si Winda, staf HRD yang katanya dulu pernah ikut workshop self-healing selama dua jam di YouTube.

“Pak, coba tarik napas… terus tarik diri dari semua beban hidup,” katanya dengan suara bak instruktur yoga di sore hari yang mendung.

Ini namanya “Breathing Technique” – Teknik paling murah yang bahkan nggak perlu beli obat.

Tapi belum sempat Pak Bambang nyoba, datang si Rico dari IT, dengan langkah seperti pembawa harapan.

“Pak! Saya punya minyak kayu putih, balsem, dan… headset buat muter suara air hujan dari Spotify. Ini andalan saya waktu pusing mikirin server kantor.”

Ini disebut “Multisensory Attack” – Serang sakit kepala dari segala sisi: aroma, audio, dan sugesti!

Namun, muncullah sang penyelamat sejati, si Ibu Kantin, yang datang sambil bawa teh manis panas dan selembar koyo.

“Minum ini dulu, Pak. Kepala pusing kadang bukan karena beban kerja… tapi karena belum makan siang!”

Ini adalah “Root Cause Solution” – Jangan cuma obati gejala, cari tahu penyebabnya. Kadang kita cuma lapar, bukan stres.

Pak Bambang akhirnya minum tehnya, nempel koyo di leher, terus rebahan lima menit sambil denger suara hujan dari headset-nya Rico. Lima menit kemudian, beliau bangun dan bilang:

“Lho, kok ilang ya pusingnya?”

Dan semua orang terdiam. Ada yang mulai curiga: jangan-jangan sakit kepala itu sebenarnya seperti mantan—kalau nggak dipikirin, dia pergi sendiri.

Ini disebut “The Power of Letting Go” – Kadang yang bikin pusing itu bukan sakitnya, tapi kita yang terlalu serius ngeladenin.

Tapi tunggu dulu. Di pojokan, si Reza—anak magang dari jurusan farmasi—angkat tangan dan nyeletuk:

“Kalau mau bener-bener cepat, minum parasetamol, Pak. Satu tablet cukup. Tapi jangan tiap hari juga. Obat itu buat keadaan darurat, bukan buat pelarian dari kenyataan.”

Ini namanya “Knowing When to Medicate” – Obat boleh, tapi harus tahu batas dan alasannya.

Lalu, si Windy dari legal nambahin:

“Dan jangan lupa minum air putih. Otak kita tuh butuh hidrasi, bukan cuma berita gosip di grup WA keluarga.”

Ini disebut “Hydration is Key” – Kadang kepala pusing cuma karena kita udah kekeringan kayak tanaman yang lupa disiram.

Akhirnya, Pak Bambang belajar satu hal penting hari itu: cara tercepat menyembuhkan sakit kepala itu bukan cuma minum obat. Tapi kombinasi dari: tarik napas, tarik diri, minum air, makan yang bener, tidur yang cukup, dan jangan terlalu serius jadi orang dewasa.

Dan sejak hari itu, setiap ada yang ngeluh pusing di kantor, Pak Bambang langsung keluarin satu mantra andalan:

“Udah makan belum?”

Kenapa? Karena kadang solusi tercepat itu bukan seminar, bukan Google, bukan juga rebahan… tapi sepiring nasi dan sejumput santai.

Ini namanya “Simplicity Wins” – Jangan cari rumus rumit untuk sesuatu yang bisa diselesaikan dengan hal sederhana.

Dan yang paling penting, jangan remehkan kuasa senyum, becandaan receh, dan istirahat lima menit di tengah tekanan hidup. Itu bukan tanda kemalasan, tapi bentuk perlawanan paling elegan terhadap dunia yang terlalu serius.

Jadi, apa cara tercepat menyembuhkan sakit kepala?

Ya itu tadi.

Minum air, makan dulu, tarik napas, kasih aromaterapi, kalau perlu minum obat, terus… jangan lupa senyum. Karena bisa jadi, yang bikin kepala lo nyut-nyutan itu bukan karena penyakit… tapi karena lo kelamaan mikirin hal yang gak bisa lo ubah.

Ini namanya “Mind Detox” – Kadang kepala sembuh bukan karena obat, tapi karena lo berhenti ngebebanin diri lo sendiri.

Sakit kepala boleh datang sesekali. Tapi jangan biarin dia ngerampok kebahagiaan lo tiap hari.

Ingat, lo bukan Google. Gak harus nyari jawaban buat semua hal. Kadang, cukup tarik napas dan bilang, “Gak apa-apa. Istirahat dulu aja.”

Dan itu… adalah resep tercepat menyembuhkan sakit kepala versi waras.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *