Di sebuah kantor penuh drama bernama PT Kepala Pusing Sejahtera, hiduplah seorang karyawan teladan bernama Rini. Setiap pagi Rini selalu datang paling duluan, tapi tiap siang wajahnya udah kayak habis marathon. Bukan karena kerjaannya berat, tapi karena si migrain datang tak diundang, pulang nggak pamit.
“Rin, lo kenapa sih tiap hari migren mulu? Lo hobi, ya?” goda Dinda, temannya yang suka drama Korea tapi nggak pernah drama kepala.
Rini cuma senyum miris. “Kalo bisa milih, Din… aku lebih pilih ditagih cicilan daripada ditampar migrain begini.”
Ini namanya “Painful Loyalty” – Migrain setia banget, bahkan pas lagi nggak butuh.
Setiap kali deadline numpuk, Rini bukan cuma lawan rasa panik, tapi juga berantem sama denyut berirama dari ujung alis ke belakang tengkuk. Dokternya udah kasih saran: banyakin tidur, kurangin kopi, kurangi stres, dan jangan kebanyakan mikir.
Rini sempat nyoba. Tapi gimana mau kurang stres kalau tiap hari HRD nanya gaji mau dipotong buat asuransi atau buat parkir?
Ini namanya “Toxic Circle” – Lo pengen sehat, tapi lingkungan ngajak kompromi terus.
Sampai suatu hari, Rini pingsan di pantry. Bukan karena liat gaji temennya lebih gede, tapi karena migrainnya udah naik level: pusing, mual, dan pandangan buram kayak kamera rusak. Bos besar langsung panik. Rini dibawa ke IGD, dan hasilnya: migrain kronis.
Dokter bilang, “Ibu Rini, ini udah bukan sekadar pusing biasa. Kalau dibiarkan, bisa berdampak ke otak dan kualitas hidup. Bahkan bisa memicu stroke ringan.”
Deg. Rini langsung mikir ulang semua keputusan hidupnya. Termasuk keputusan waktu nahan pipis di rapat 2 jam.
Ini namanya “Wake Up Call” – Kadang tubuh kasih sinyal keras biar lo berhenti sok kuat.
Di ruang istirahat kantor, Rini akhirnya jadi pembicara. Tapi bukan buat presentasi proposal, melainkan buat edukasi migrain.
“Guys, migrain itu bukan pusing manja. Kalau sering kambuh, bisa ganggu memori, emosi, sampai hubungan rumah tangga.”
“Serius, Rin? Bisa sampai situ?” tanya Riko, si karyawan baru yang lebih takut kehilangan sinyal HP daripada kehilangan akal sehat.
Rini angguk. “Migrain bisa bikin gampang marah, susah fokus, bahkan depresi. Gue pernah lupa naruh laptop, padahal pas dicek… lagi dipangku.”

Ini namanya “Mental Exhaustion” – Otak lo lelah, tapi lo masih ngerasa ‘ah, biasa aja.’
Bahkan ada temen Rini, si Yola, yang akhirnya resign karena migrainnya bikin dia sering absen. Bukan karena malas, tapi karena kalau cahaya kena mata, rasanya kayak ditusuk laser. Belum lagi kalau suara gaduh, rasanya pengen masuk gua.
“Jadi apa akibatnya kalau migrain sering datang?” tanya Riko penasaran.
Rini mulai ngitung di jari:
- Produktivitas turun – Kerjaan ngaret, performa jeblok.
- Kualitas hidup terganggu – Nggak bisa nikmatin makanan, cahaya, bahkan suara anak sendiri.
- Gangguan mental – Bisa picu kecemasan, mudah panik, bahkan depresi.
- Masalah jangka panjang – Risiko stroke ringan, kerusakan saraf, sampai gangguan penglihatan.
- Relasi hancur – Karena sering murung, pasangan bisa salah paham. Yang niatnya pelukan, malah kena semprot.
Ini semua bukan mitos, tapi nyata. Dan sayangnya, banyak orang cuek. Mereka pikir migrain itu cuma capek. Padahal capek bisa hilang pake tidur. Migrain? Kadang tidur aja malah bikin tambah berat.
Ini namanya “Invisible Battle” – Perang di dalam kepala yang nggak kelihatan, tapi mematikan.
Rini akhirnya ambil keputusan besar. Dia mulai jaga pola makan, rutin yoga, dan yang paling penting: berani bilang “nggak” kalau udah ngerasa kepala mulai berdenyut.
“Lo resign, Rin?” tanya Dinda.
“Enggak. Gue masih di sini. Tapi sekarang, migrain bukan bos gue lagi. Gue yang tentuin kapan istirahat, kapan kerja. Karena kesehatan gue nggak bisa ditukar bonus akhir tahun.”
Ini namanya “Taking Control” – Karena jadi kuat itu bukan soal nahan sakit, tapi tahu kapan berhenti.
Dan sejak saat itu, kantor PT Kepala Pusing Sejahtera pun berubah. Mereka bikin pojok relaksasi, kasih jatah istirahat beneran, dan yang penting: gak lagi nganggep pusing sebagai hal sepele.
Karena seperti kata Rini, “Migrain itu bukan cuma pusing. Tapi alarm tubuh lo yang bilang: ‘Woy, gue butuh diperhatiin!’”
Jadi, lo masih pikir migrain itu hal kecil?
Hati-hati. Bisa jadi, yang lo anggap cuma nyut-nyutan itu adalah tanda tubuh lo udah teriak-teriak… tapi lo malah sibuk buka spreadsheet.